jump to navigation

Jam January 16, 2009

Posted by ejemy in My Diary, Wonderfull Story.
Tags: ,
add a comment

Oops…. Tiba-tiba aja jam kesayangan ku putus talinya :-( apa udah kelamaan yach. jam model plastik Q&Q ini adalah salah satu jam favorit saya sejak masih di ‘high school’ kalo di itung2 udah 3x punya model jam seperti ini :D .

Tiga minggu berselang semenjak putusnya tali jam, saya ndak sempet2 ganti talinya he he he…..nah pas kemarin saya lihat ada tukang jam didepan indomart deket kantor, saya bulatkan tekat (supaya ga lupa) untuk mampir nanti sepulang kerja :D .

ada yang istimewa ketika saya menghampiri tukang jam itu (karena hanya etalase mobile (yang bisa didorong) kmana orangnya yach?? ternyata……dibalik display pajangannya tukang jam itu sedang mangaji……seperti ada perasaan malu didiri saya :( melihat tukang jam yang notabenenya kaki lima (bahkan mengais rezeki yang belum tentu ada tiap harinya) dia sempat membaca kitab suci…..Ya Allah limpahkanlah rezeki tukang jam itu dan saya, berikanlah keteguhan iman untuk tetap membaca asma Mu…..amien….

ok, sekarang selamat menikmati cerita tentang jam (saya copy paste dari milist sebelah :D )

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang
dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak
31,104,000 kali selama setahun?”

“Ha?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”

“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?”

“Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping
seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?”

“Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja
jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.
“Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”

“Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.
Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar
biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa
henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu
terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita
ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk
dilakukan sekalipun.

Jangan berkata “tidak” sebelum Anda pernah mencobanya.

Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order (Bagian 1-10, tamat) November 20, 2008

Posted by ejemy in Wonderfull Story.
Tags:
add a comment

source : www.eramuslim.com

Mungkin Anda akan terperanjat jika mengetahui fakta jika pemeluk agama terbanyak di dunia di abad millennium ini adalah kaum pagan, sebuah agama kuno yang diperangi para Nabi dan Rasul Utusan Allah SWT.

Salah satu indikasi hal tersebut adalah dipergunakannya simbol-simbol paganisme, dalam arsitektur rumah ibadah, lafadz doa, hymne atau kidung, ritual, dan sebagainya. Simbol salib misalnya, ini berasal dari simbol persilangan cahaya dewa matahari yang banyak dijadikan tuhan oleh suku-suku kuno dari Mesir (Ancien Egypt) dan Roma hingga Amerika Latin (Suku Maya dan Aztec), dari Jepun (Amaterasu) hingga India (Btara Indra).

Pastor Herbert W. Amstrong, pemimpin Worldwide Church of God yang berpusat di AS yang juga sebagai Editor in Chief majalah Kristen Plain Truth yang bertiras delapan juta eksemplar tiap bulan, dengan jujur mengemukakan bahwa tanda salib memang berasal dari simbol paganisme. Bukan itu saja, Natal yang diperingati oleh Gereja Barat setiap tanggal 25 Desember pun oleh Amstrong dianggap sebagai kelanjutan dari ritual penyembahan kelahiran anak Dewa Matahari (Sun of the God). Sebab itu, Sunday dijadikan hari libur kaum Kristiani. ‘Sun’ berarti ‘Matahari’ dan ‘Day’ berarti ‘Hari’. Ritual pemujaan kaum pagan terhadap Dewa Matahari memang banyak dilakukan di hari Minggu (Sunday).

Pemujaan terhadap Dewa Matahari ini juga bisa dilihat dari arsitektur kota suci Vatikan, pusat Gereja Katolik Barat, di mana sebuah tiang tinggi berdiri di pusat kota suci ini. Obelisk merupakan simbol phallus dan menjadi sentral dari ritual pemujaan terhadap Dewa Matahari. Obelisk ini berdiri di banyak kota dunia seperti Washington DC, Paris, dan juga… Jakarta! (Monas).

Lalu konsep Trinitas sendiri yang oleh kaum Kristiani dianggap sebagai konsep yang sakral juga berasal dari konsep paganisme kuno yang diwakili oleh Semiramis dan anaknya (Pagan Babylonia), Devka dan Khrisna (Pagan India), Isis dan Horus (Pagan Mesir), dan sebagainya.

Ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan setelah doa pun sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra).

Peradaban pagan kuno memang telah terkubur bersama peralihan zaman dan juga peperangan demi peperangan. Namun esensi dari kepercayaan banyak tuhan tersebut tidaklah pernah mati, bahkan di abad millennium ini kepercayaan kuno tersebut menjadi kepercayaan yang mendominasi umat manusia, tanpa banyak disadari. Simbol-simbol pagan menjadi simbol-simbol yang paling popular di dunia ini, dan mewarnai seluruh—SELURUH—institusi dunia seperti PBB dan sebagainya.

Bermula dari Iblis

Asal-muasal kaum pagan modern sekarang ini sesungguhnya berasal dari satu kelompok kecil para pengikut iblis (baca Eramuslim Digest edisi “Genesis of Zionism”), di mana sepanjang sejarah awalnya diwakili oleh mereka yang selalu memusuhi dan memerangi para Nabi dan Rasul Allah SWT. Mereka adalah Samiri yang memerangi Musa as. (Amerika pun menyebut dirinya dengan “Uncle Sam”), Namrudz yang memerangi Ibrahim a.s., dan para pendeta Sanhedrin yang memerangi Isa a.s.

Mereka adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus) yang mengubah esensi dasar agama Nasrani dari yang hanya sebagai agama kaum Nabi Isa menjadi agama misi ke seluruh dunia. Mereka adalah Abdullah bin Saba’ (Yahudi dari Yaman) yang memecah umat tauhid ini. Mereka adalah Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani. Mereka adalah Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dan disebut sebagai Lawrence of Arabia. Mereka adalah Snouck Hurgronje (Yahudi Belanda) yang pura-pura masuk Islam dan menggunakan ‘keIslamannya’ sebagai senjata untuk menghancurkan umat Islam Indonesia.

Strategi Hurgronje ini dikenal dengan istilah “Izharul Islam” atau “Pura-Pura Islam” dan sekarang dipakai oleh banyak kaum liberalis, termasuk mereka yang mengaku-aku sebagai kaum liberal Islam yang banyak mempromosikan ide-ide pluralisme (keberagaman), hak asasi manusia, anti kekerasan, kebebasan, dan sebagainya. Jika sekarang ini ada segolongan orang Islam yang mulai terjangkit virus “Pluralitas” maka hal itu sesungguhnya mereka telah tercemar oleh keyakinan pagan, karena seorang Muslim wajib “Fardhu’ain” hanya berpegang pada Tali Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dalam tulisan bagian dua, akan dipaparkan awal sejarah kelompok pagan modern di mana Adam Weishaupt, seorang Rabbi Yahudi yang berpura-pura menjadi Yesuit dan kemudian meninggalkan kelompoknya untuk kemudian menjadi pemimpin Illuminati, sebuah organisasi klandestin yang secara diam-diam menguasai perekonomian dan perpolitikan dunia saat ini.

Sejarah dunia mencatat bahwa Dinasti Rotschild merupakan dinasti paling terkemuka di Eropa di abad pertengahan. Sir Meyer Amschel Rotschild merupakan sesepuh dinasti ini yang juga disebuta sebagai Rotschild I. Keluarga Yahudi ini tinggal di sebuah rumah besar di pojok Judenstrasse (Jalan Yahudi) di Bavaria (sekarang Jerman).

Kuat dugaan, Rotschild I merupakan pewaris kelompok Templar yang dibasmi dari seluruh Eropa oleh Paus Clement IV dan Raja Perancis, King Philip le Bel, di tahun 1307. Pada 1314, Grandmaster terakhir Templar bernama Jaques de Molay dibakar hidup-hidup hingga menemui ajal.

Saat dibasmi, Templar banyak yang menyelamatkan diri ke Skotlandia, satu-satunya wilayah di Eropa yang tengah diekskomunikasikan dari Gereja. Namun Skotlandia bukan satu-satunya tempat persembunyian Templar. Para Templar yang dikenal sebagai jago-jago perang dan juga intelijen di abad pertengahan ini juga banyak yang menyusup di sejumlah wilayah Eropa. Mereka yang bersembunyi di Portugis, Spanyol, dan Itali, menanggalkan jubah Templarnya dan mengganti nama menjadi Knight of Christ. Yang di Malta menjadi Knights of Rhodes atau Knights of Malta. Ada pula yang lari bersembunyi di Bavaria dan menjelma menjadi Knights of Teutonik.

Penangkapan dan pengadilan atas Templar di Bavaria dilakukan dengan penuh sandiwara dan tidak dilaksanakan dengan sepenuh hati. Sebab itu organisasi ini masih eksis selama berabad-abad di Bavaria—dan juga secara klandestin di Eropa—dan menemukan tokoh baru di wilayah baru ini, seorang Yahudi paganism kaya raya dan dekat dengan praktek-praktek klenik dan okultisme seperti halnya Templar, bernama Meyer Amschell Rotschild. Ada anggapan juga bahwa sesungguhnya Rotschild I ini malah seorang tokoh Templar Klandestin sejak awalnya.

Di tahun 1773, Rotschild I mengundang 12 keluarga Yahudi terkemuka dunia untuk berkumpul di kediamannya. Dalam pertemuan tersebut, Rotschild I mengeluarkan dan membacakan 25 butir strategi penguasaan dunia yang di dalam Kongres Zionis Internasional I di Basel Swiss (1897) disahkan menjadi agenda gerakan Zionis Internasional dengan nama Protocolat of Zions.

Selain itu, Rotschild juga memanggil dan memperkenalkan seorang Yahudi dari Ingolstadt, Bavaria, anak dari seorang Rabi Yahudi yang menyembunyikan keyahudiannya dan mengaku sebagai seorang Yesuit Katolik bernama Adam Weishaupt. Orang ini tertarik pada pemikiran-pemikiran ajaran sesat Dinasti Kerajaan Perancis terakhir, yang dalam The Holy Blood Holy Grail (1982) disebut sebagai Dinasti Merovingian.

Awalnya, Rotschild menugaskan Weishaupt untuk memimpin Coven of Golden Dawn (Fajar Keemasan), sebuah sekte mistik pribadi keluarga Rotschild yang masih aktif sampai dengan hari ini. Kemudian, di dalam pertemuan tersebut, Rotschild menunjuk Weishaupt untuk membentuk dan memimpin sebuah sekte mistik kuno Bavaria bernama Illuminati (Yang Tercerahkan, kaum gnostis sendiri menyebut Maria Magdalena sebagai The Illuminatrix). Illuminati merupakan sekte Luciferian (iblis) yang memiliki arti Sang Pembawa Cahaya.

Di dalam struktur keanggotaan Illuminati, lapisan tertinggi berada dalam kelompok Areopagites atau Tribunal yang memegang kendali atas sekte. Mereka inilah yang berhak hadir dalam pertemuan-pertemuan rahasia.

Nesta Helen Webster dalam World Revolution: The Plot Against Civilisation (1921) menyebut bahwa keahlian Illuminati adalah dalam seni menipu dan memanipulasi, yang memanjakan dan menggerakan mimpi-mimpi orang-orang lugu dan memprovokasi serta mengarahkan mimpi-mimpi orang fanatic dengan memuji-muji dan mendongkrak keangkuhan serta kesomboingan intelektualitas mereka. Illuminati mempermainkan ketidakseimbangan otak manusia, dengan mendorong ambisi dan nafsu kekuasaan serta memandang rendah idealisme dan nilai-nilai luhur. Syahwat kekuasaan merupakan mainan utama dari Illuminati sejak dulu hingga millennium ketiga ini. Siapa pun yang terpengaruh akan provokasinya, secara sadar atau tidak, telah menjadi pelayan bagi kelompok pemuja setan ini.

Webster menegaskan, “Tujuan utama Illuminati adalah untuk kekuasaan dan kekayaan. Mereka memiliki tujuan untuk menguasai seluruh dunia dan seluruh umat manusia dengan jalan menghancurkan pemerintahan yang religius maupun yang sekuler. Illuminati akan bertahta dalam satu tatanan dunia yang sama sekali baru yang dinamakan sebagai The New World Order.”

Guna menuju penguasaan dunia, Illuminati mempergunakan semboyan “Tujuan Menghalalkan Cara”. Walau demikian, ada dua senjata utama mereka untuk mempengaruhi atau menundukkan sasaran, terutama politikus, pejabat militer, dan juga para penguasa, termsuk anggota legislatif. Yakni dengan uang dan seks.

Dalam tulisan ketiga akan dipaparkan kisah penyatuan sekte Illuminati dengan gerakan Freemasonry, keduanya gerakan Yahudi paganis, dan juga kisah tentang Baron Franz Friedrich Knigge yang pada tahun 1780 direkrut menjadi anggota dan sikap Comte de Virieu yang keluar dari sekte tersebut.

Illuminati modern lahir di Bavaria pada tahun 1773, tiga tahun sebelum para tokoh Mason menandatangani piagam kemerdekaan Amerika Serikat. Sebelum Illuminati ‘lahir’, gerakan paganis bernama Freemasonry telah dahulu ada di Eropa dan berkembang dengan pesat di sana. Nyaris semua negara dan kerajaan di Eropa tersentuh oleh gerakan Freemason yang lahir di Skotlandia pada sekitar tahun 1314-an.

Para tetua pagan Yahudi seperti Rotschild melihat bahwa strategi mereka akan bisa lebih efektif dan cepat tercapai bila Illuminati dan Freemasonry bersatu. Sebab itu, pada tahun 1780, Baron Franz Friedrich Knigge direkrut menjadi anggota Illuminati dan dengan cepat menjadi salah satu tokoh penting Illuminati Eropa. Sebelumnya, Knigge ini merupakan salah satu tokoh sentral Freemasonry Eropa. Atas usahanya inilah, keduanya bias dipersatukan dan menjadi organisasi klandestine okultis yang begitu efektif, tidak saja di Eropa namun menggapai daratan Amerika dan lainnya.

Penyatuan Illuminati dan Freemasonry “diresmikan” dalam Kongres Wilhelmsbad pada 29 Agustus 1782 di mana Adam Weishaupt dan Knigge memimpin kongres tersebut. Semua yang hadir disumpah untuk tidak membocorkan kepada siapa pun, termasuk kepada anggota keluarga terdekat, apa saja yang terjadi dan diputuskan dalam pertemuan rahasia tersebut.

Comte de Vireu, seorang Masonik dari Lodge du Martinist di Lyons, Perancis Selatan—sebuah wilayah yang kental dengan nuansa Esoteris dan gerejanya memuja Yohanes sebagai Sang Kristus serta Maria Magdalena sebagai The Illuminatrix (Yang Tercerahkan), ikut hadir dalam Kongres di Wilhelmsbad. Sepulangnya dari acara, dia ditanya oleh isterinya tentang apa saja yang dibahas dalam pertemuan.

Terikat dengan sumpah setia, dan tentu saja ancamannya, Comte de Virieu hanya menyatakan bahwa apa yang terjadi dalam kongres sungguh-sungguh mengerikan. “Semua yang terjadi, adalah jauh lebih serius dari apa yang pernah kalian bayangkan selama ini. Konspirasi yang disusun telah benar-benar dirancang dengan sangat matang, sistematis, dan penuh dengan kejutan. Banyak orang penting terlibat dan tentunya dana yang disediakan juga tidak terbatas. Saya berkeyakinan, seluruh kerajaan dan gereja di Eropa ini tidak akan mampu membendung konspirasi tersebut. Ini benar-benar menakutkan, ” ungkapnya.

Atas desakan isterinya dan juga sejumlah kolega, akhirnya de Virieu menyatakan keluar dari perkumpulan.

Dengan sangat licin, Illuminati yang telah bersatu dengan Freemasonry terus bergerak. Mereka berada di belakang setiap revolusi, peperangan, dan peristiwa besar dunia. Nyaris semua pergantian penguasa di sejumlah negeri besar Eropa dan Amerika tidak lepas dari tangan kotor mereka.

Menundukkan Tiga Agama Besar

Satu hal yang jarang diketahui umum, gerakan paganis Yahudi yang juga disebut sebagai kaum Talmudian ini merupakan gerakan untuk menghancurkan semua agama langit. Taurat Musa mereka ganti dengan Talmud; Ajaran Nabi Isa a.s. dikotori dengan tangan Paulus, Yahudi dari Tarsus; dan ke dalam Islam mereka menyusupkan Abdullah bin Saba’, Yahudi dari Yaman yang mengaku-aku sebagai pembela keluarga Ali r.a. dan mengajarkan pengikutnya agar hanya mencintai Ali r.a. dan mengecam ketiga sahabat Nabi SAW lainnya seperti Abu Bakar r.a., Umar bin Khattab r.a., dan Ustman bin Affan r.a.

Mereka ini memiliki dendam kesumat terhadap Gereja yang telah menumpas para tetua mereka pada tahun 1307. Sebab itu mereka berupaya agar Gereja bisa ditundukkan dan menjadi pelayan kepentingan mereka. Salah satu bukti adalah surat balasan dari Rabi Yahudi di Konstantinopel kepada warga Yahudi yang tinggal di Arles, Perancis, yang menyatakan, “Jadilah kamu pemeluk Kristen, namun tetaplah pelihara Talmud di dalam hatimu. Agar kamu bisa menghancurkan mereka dari dalam…”

Konspirasi mereka tetap berjalan dengan penuh kerahasiaan. Satu persatu negeri-negeri besar jatuh dalam cengkeraman mereka. Dari daratan Eropa, mereka menjangkau Amerika, dan juga seluruh dunia. Sejarah dunia yang kita kenal sekarang merupakan hasil kerja mereka. Hanya saja, sejarah resmi tidak pernah mencatat bahwa semua ini merupakan hasil dari kerja keras mereka, karena industri penulisan dunia pun dimiliki oleh jaringan mereka.

Tulisan bagian empat akan membahas konspirasi mereka di abad ke-20, di mana mereka berusaha menaklukkan dunia lewat peperangan dan pendirian lembaga-lembaga internasional seperti PBB, World Bank, dan sejenisnya. Salah satu program PBB yang akan dibahas nanti adalah tentang Codex Alimentarius, sebuah program pengendalian populasi manusia di mana Rockefeller menjadi salah satu penggeraknya.

Peperangan atau konflik berskala luas merupakan ‘barang mainan’ kaum Konspirasi sejak lama. Berbagai revolusi besar dunia seperti revolusi Inggris dan Perancis, memang sengaja dirancang oleh mereka. Bahkan banyak literatur menyatakan jika Jenderal Albert Pike, seorang Jenderal AS dalam Perang Saudara yang gemar dengan segala sesuatu yang bersifat mistis, jauh-jauh hari telah merancang skenario perang dunia sampai tahap Perang Dunia II yang dirancangnya terjadi di abad millennium ketiga ini.

Memasuki abad ke-21, setelah menggelar Konferensi Zionis Internasional I di Basel, Swiss, pada tahun 1897, yang mengesahkan Protocolat Zionis sebagai agenda bersama gerakan Konspirasi untuk menguasai dunia. Emas dan propaganda merupakan dua komponen utama yang dipergunakan sebagai senjata kelompok ini.

Nyaris seluruh Eropa telah berada dalam cengkeraman kuku-kuku mereka. Demikian pula dengan Amerika Serikat. Namun mereka menghendaki agar Eropa bisa didesain ulang sesuai dengan kepentingan mereka, yakni Eropa yang tidak bersatu dan penuh konflik di dalamnya. Sebab itu, pecahlah Perang Dunia I yang disusul pula dengan Perang Dunia II. Kedua perang besar dengan korban puluhan juta nyawa manusia ini diangap berhasil guna mendesain ulang peta politik dan perekonomian dunia.

Pasca Perang Dunia II, mesin propaganda Konspirasi menanamkan kepada otak seluruh manusia—terutama Barat—bahwa bangsa Yahudi telah dibuat begitu menderita dalam perang tersebut dengan terjadinya upaya pembasmian etnis Yahudi yang dilakukan Nazi Jerman. Tragedi Holokous dijadikan berhala baru dalam peta politik dunia di mana tidak seorang pun boleh mempertanyakan keabsahannya. “Dengan adanya mitos holokous ini, Barat yang dibuat merasa begitu berdosa diperas habis-habisan oleh kekuatan ini, ” demikian Prof. Norman G. Finkelstein dalam bukunya “The Holocoust Industry”.

Bangsa Yahudi pun telah berhasil mendirikan “Negara” di atas tanah milik bangsa Palestina dengan dukungan lobi politik Negara-negara Barat.

Guna melicinkan jalan menguasai dunia, maka Konspirasi mendirikan sebuah badan super power yang seluruh kebijakannya berada dan berlaku di atas kebijakan negara-negara yang ada yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations). PBB didirikan di San Francisco, AS, pada 24 Oktober 1945 setelah Konferensi Dumbarton Oaks di Washington, DC. Sidang Umum yang pertama, dihadiri wakil dari 51 negara, berlangsung pada 10 Januari 1946 di London. Sebelumnya PBB ini bernama Liga Bangsa-Bangsa.

Badan Internasional ini diperlengkapi dengan lembaga-lembaga di bawahnya yang mencakup hampir semua bidang kehidupan manusia di bumi ini, seperti kesehatan (WHO), pangan (FAO), perbankan atau perekonomian (World Bank dan IMF), dan sebagainya. Sesungguhnya, PBB ini merupakan satu rintisan ke arah tatanan dunia baru yang menghendaki adanya satu super pemerintahan yang berhak mengatur negara-negara lainnya.

Dalam perjalanannya, PBB terbukti menjadi alat bagi kepentingan imperialisme Barat terhadap negeri-negeri selatan. Dalam segala hal, PBB senantiasa mengambil kebijakan yang menguntungkan kaum Konspirasi. Jika pun ada resolusi yang keluar bagi Israel, misalnya, maka hal tersebut hanyalah sebuah resolusi di atas kertas yang tidak memiliki dampak apa pun terhadap Israel. Namun jika ada satu saja resolusi PBB bagi negeri-negeri Islam, maka resolusi itu wajib dipatuhi dan dilaksanakan, bahkan jika perlu dengan ancaman senjata dari negara besar seperti AS dan sekutunya.

Kontrol Populasi Dunia

Begitu banyak fakta-fakta konspirasi dan ketidakadilan menyangkut PBB. Namun ada satu konspirasi PBB yang luput dari perhatian khalayak ramai yakni tentang rencana Konspirasi untuk mengurangi populasi dunia sehingga dunia ini hanya dihuni oleh 500 juta manusia. Hal ini berarti pengurangan sekitar 93% penduduk dunia.

Hal tersebut berangkat dari pemikiran bahwa dunia dengan segala kekayaan alamnya, dengan seluruh ekosistemnya, rantai makanannya, serta sistem alamiah yang ada, tidak akan sanggup untuk menopang kehidupan umat manusia sebanyak sekarang—sekitar 6 miliar orang—dengan baik. Untuk menciptakan satu dunia yang lebih baik, maka diperlukan pengurangan jumlah populasi umat manusia sebanyak 93%-nya atau dunia ini hanya mampu untuk menopang kehidupan 500 juta manusia.

Yang unik, Desember 2012 merupakan waku yang ditentukan oleh pihak Konspirasi untuk memulai program ini secara besar-besaran. Belum ada satu pun pihak yang mengetahui secara pasti mengapa Konspirasi mematok awal program yang akan mengurangi jumlah umat manusia secara drastis ini pada Desember 2012.

Temuan-temuan berkenaan dengan waktu tersebut sungguh mengagetkan. Berabad silam, suku bangsa kuno seperti Suku Maya, Suku Hopi, Kaliyuga, Aztec, dan juga Mesir Kuno telah meramalkan di dalam sistem kalender kuno mereka jika pada akhir tahun 2012 dunia lama akan berakhir dan dunia baru akan muncul. Perhitungan suku-suku kuno ini berdasarkan pada pergerakan bintang-bintang dan berbagai ramalan mistis yang ada.

Di abad milenium, ketika sebagian dinding Pentagon hancur ditabrak misil yang mirip sebuah pesawat jet kecil pada tanggal 11 September 2001 (baca Eramuslim Digest edisi 911 tentang kebohongan-kebohongan AS soal peristiwa WTC), segelintir elit AS yang juga merupakan tokoh-tokoh Konspirasi Paganisme Modern ini menginginkan agar Pentagon diubah dan dimodernisasi lebih canggih lagi dengan berbagai peralatan yang terkomputerisasi.

Batas waktu bagi upaya modernisasi Pentagon ini adalah Desember 2012!

Kontrol populasi merupakan praktek paling dasar dari ritual kaum pagan guna menyeimbangkan manusia dengan alam, yaitu bumi (Gaia). Pihak Konspirasi yang merupakan pewaris ritual agama pagan kuno—sebab itu disebut juga sebagai Paganis Modern—meneruskan usaha ini demi memelihara Gaia bagi mereka.

Jika kaum pagan kuno seperti suku Aztec, Mesir Kuno, Maya, Kaliyuga, dan Indian Hopi dengan sistem kalender sonar-nya meramalkan kehancuran fase lama pada 31 Desember 2012. Maka kaum pagan modern ini juga menjadikan tanggal tersebut sebagai fase yang penting bagi sejarah gerakan panuang mereka. Momentum akhir Desember 2012 dijadikan tonggak berakhirnya Pentagon lama dan kemunculan Pentagon baru, lalu dimulainya fase pengurangan populasi umat manusia sampai dengan 90%-nya hingga dunia menyisakan sekitar 500 juta manusia di dalamnya, dan sebagainya.

Kontrol populasi ini sudah diterapkan sejak bertahun-tahun lalu melalui serangkaian uji coba dan strategi, antara lain program Keluarga Berencana (KB), yang sampai detik ini ditentang oleh Gereja Katolik. Sikap Gereja sesungguhnya bukan semata alasan bahwa program tersebut seolah mendahulu takdir Tuhan, namun Gereja yang memang sejak lama menjadi musuh bagi Konspirasi (ingat penumpasan Templar di tahun 1307), mengetahui secara pasti akal licik di balik program dunia tersebut.

Strategi kontrol populasi tidak hanya lewat program KB, namun juga lewat rekayasa genetis, yang gencar dilakukan terhadap tumbuhan dan hewan. Dari upaya ini dikenal istilah-istilah seperti makanan transgenik dan sebagainya. Dari upaya rekayasa genetika inilah berbagai penyakit baru bermunculan dan menyerang manusia, bahkan di banyak tempat menjadi wabah yang dalam tempo cepat membunuh banyak manusia.

Salah satu yang menjadi sorotan banyak pakar kesehatan adalah penggunaan bahan-bahan kimiawi hasil rekayasa genetika yang disisipkan dalam aneka makanan dan juga pupuk tanaman. Bahan-bahan yang kelihatan kecil dan sepele ini dalam waktu yang lama akan menumpuk di dalam tubuh atau di dalam aliran darah, dan dalam jangka waktu tertentu menjadi penyakit yang sangat sulit untu disembuhkan. Belum lagi jenis-jenis bahan transgenik lainnya yang mampu menghilangkan fungsi-fungsi luhur manusia.

Salah satu forum internasional yang membahas masalah ini adalah pertemuan National Association of Nutrition Professional (NANP- 2005 Conference). Dalam presentasinya yang berjudul “Codex and Nutricide’, Dr. Rima Laibow dari Natural Solutions Foundation (bisa dilihat di www.HealthFreedomUSA.org) mengatakan, “…mereka yang menguasai makanan akan menguasai dunia… Mereka telah mengatakan pada tahun 1962 bahwa Proyek Codex Alimentarius secara global akan diimplementasikan pada 31 Desember 2009. Ini merupakan semacam cetak biru. Proyek Dunia ini diarahkan oleh WHO dan FAO, dua lembaga dunia di bawah PBB yang membidangi masalah kesehatan dan pangan…”

Dalam ceramahnya, Dr. Laibow tiba-tiba menyuruh para hadirin untuk diam dan mengencangkan ikat pinggang. Dia kemudian berkata, “Di tahun 1994, diam-diam, tanpa sepengetahuan masyarakat luas Amerika, Codex menyatakan bahwa Gizi adalah racun, yang berarti berbahaya dan harus dihindari. Di bawah ketentuan Codex, semua sapi perah di muka bumi ini WAJIB diinjeksi dengan hormon pertumbuhan yang diproduksi oleh satu-satunya perusahaan yakni Monsanto. Dan lebih jauh lagi, semua hewan ternak yang digunakan sebagai bahan makanan di planet ini harus disusupkan bahan anti biotik khusus dan hormon pertumbuhan buatan.”

Dr. Laibow melanjutkan, “Menurut perhitungan WHO dan FAO, jika proyek mereka ini terus berjalan tanpa hambatan berarti, WHO dan FAO memproyeksikan—ini terdapat dalam panduan mineral dan vitamin mereka—ketika diimplementasikan pada 31 Desember 2009, maka akan berdampak pada minimum kematian sekitar 3 miliar jiwa. Satu miliar lewat kematian secara langsung, mereka ini adalah orang-orang yang gagal di mata para korporasi dunia dan sisanya, 2 miliar jiwa, akan menemui kematian akibat penyakit yang sesungguhnya bisa dicegah, yakni kurang gizi.”

Lantas, siapa yang akan tetap hidup—dalam bahasa Darwin, “Survival of the fittest”? Dr. Laibow berkata, “Hanya mereka yang kaya, yang mampu menyuplai gizi dan vitamin dalam makanan mereka yang akan tetap bisa hidup.”

Kecemasan Dr. Laibow bukanlah kecemasan seorang awam. Ada banyak Laibow-Laibow lain seperti itu disebabkan fakta dan bukti yang sukar dibantah mengenai hal tersebut. PBB sendiri telah mengeluarkan lusinan dokumen resmi yang meminta pengurangan populasi dunia hingga 80%-nya. Salah satunya di dalam Konferensi Perempuan Sedunia di Beizing (1997), di mana Kepala FAO dengan tegas menyatakan, “Kami akan menggunakan makanan sebagai senjata melawan masyarakat.”

Dengan kata lain, PBB dalam hal ini lewat FAO dan WHO akan mempergunakan makanan, termasuk bahan-bahan yang akan masuk ke dalam tubuh manusia, sebagai bagian dari senjata ampuh yang besar dan kompleks, bernama “Kontrol Populasi”. Digunakan untuk mengurangi jumlah populasi dunia, seperti yang diamanatkan kaum Pagan Kuno berabad silam.

Dalam tulisan keenam akan dipaparkan beberapa zat aditif berbahaya yang disusupkan ke dalam bahan makanan dan juga bahan-bahan kesehatan, namun dikatakan oleh berbagai lembaga internasional sebagai zat aditif yang berguna dan menguntungkan bagi kesehatan tubuh.

Berbagai penyakit baru terus bermunculan menghinggapi manusia dan parahnya belum ditemukan obat yang paten yang mampu menyembuhkan secara total, seperti halnya virus HIV, dan juga Virus H5N1 dalam kasus Flu Burung. Kita tentu ingat, setiap kali ada korban meninggal akibat virus ini, media massa baik cetak maupun elektronik senantiasa menyebutnya sebagai ‘Suspect Flu Burung’ alias baru diduga, bukan dipastikan.

Di lain sisi, obat-obatan kimiawi yang diproduksi oleh dunia medis dan direkomendir oleh para dokter ternyata juga tidak bebas dari efek samping. Obat untuk sesuatu penyakit ternyata jika digunakan secara kontinyu akan menimbulkan penyakit lain. Penyakit utama yang diderita pun bisa jadi bertambah kuat dan sebab itu membutuhkan dosis dari obat yang sama yang lebih besar lagi agar penyakit atau virus atau kuman yang lebih kuat bisa dibasmi.

Parahnya, aneka bahan konsumsi manusia yang berasal dari alam pun ternyata dewasa ini sudah jauh dari nilai sehat. Sayuran dan buah-buahan misalnya, dalam perawatannya selalu disemprot dengan herbisida atau insektisida yang tidak aman bagi manusia. Belum lagi zat pengawet yang biasa diberikan kepada sayuran dan buah-buahan impor agar lebih tahan lama dan tidak mudah busuk, juga menambah daftar zat kimia berbahaya yang dipastikan akan ikut masuk ke dalam tubuh manusia jika dikonsumsi. Lama-kelamaan, zat-zat yang jumlahnya mungkin sangat kecil ini, bisa menjadi besar karena mengendap di dalam tubuh dan menjadi bibit penyakit.

Satu contoh, seorang perempuan yang sejak muda sering mengkonsumsi mie instan atau penganan pabrik yang mengandung Mono Sodium Glutamat (MSG) alias bahan penyedap atau penguat rasa yang lazim ditambahkan ke dalam banyak sekali penganan produk pabrik, lima sampai sepuluh tahun ke depan pasti akan tumbuh kista di dalam tubuhnya yang bisa jadi bertambah ganas menjadi tumor. Banyak sekali kasus ini di dunia dan juga di Indonesia.

Ironisnya, penggunaan MSG oleh media massa malah dipromosikan secara besar-besaran sebagai zat yang mampu mendongkrak rasa dan kenikmatan sebuah makanan, namun tidak dipaparkan secara jujur efek samping membahayakan bagi tubuh manusia. Berbagai penelitian dari dunia medis tentang bahaya MSG pun tidak disosialisasikan secara massal. Akibatnya, hanya orang-orang tertentu yang care terhadap kesehatan-lah yang berusaha sekuat tenaga menghindari penggunaan zat aditif tersebut. Sedangkan kalangan bawah yang tertutup akses informasi (karena buku atau pendidikan mahal harganya), dan kelompok ini jauh lebih besar kuantitasnya, tidak mengetahui akan bahaya tersebut dan terus-menertus mengkonsumsi penganan yang tidak sehat tersebut. Akibatnya, berbagai penyakit mereka derita dan biasanya kematian selalu menjadi akhir dari cerita mereka karena untuk berobat ke dokter pun mereka tidak memiliki cukup uang.

Satu contoh lagi tentang zat aditif. Tahukah Anda jika setiap ayam goreng yang disajikan oleh berbagai resto fasfood ternama dunia merupakan ayam yang dari telur hingga dewasa dan dipotong, masa hidupnya tidak sampai dua bulan? Ayam tersebut besar dengan cepat disebabkan suntikan hormon yang diberikan secara berkala dengan jumlah yang besar. Hormon tersebut tidaklah hilang tatkala ayam tersebut digoreng. Hormon itu tetap ada dan masuk ke dalam perut kita saat kita menyantapnya. Inilah penjelasan mengapa anak-anak remaja sekarang banyak yang menderita obesitas dan berbagai macam penyakit. Jika masih ragu, tontonlah film semi dokumenter yang cukup menghibur berjudul ‘Super Size Me’ yang disutradarai Morgan Spurlock dari AS.

Coba sekarang tutup mata kita, dan begitu kita buka kembali, hilangkan semua persepsi dan paradigma yang ada. Kita akan bisa melihat dengan jelas jika sekarang ini berbagai upaya menghabisi ras manusia tengah terjadi di depan dan sekeliling kita, lewat peperangan, propaganda media massa, hegemoni ekonomi, penyakit, konflik, makanan, dan bahkan obat-obatan. Apakah ini berjalan dengan sendirinya? Tentu sangat naif jika kita mengira demikian.

Fluoride

Zat kimia ini secara umum dipersepsikan orang sebagai zat ampuh untuk memperkuat tulang gigi. Sebab itu, zat ini banyak disisipkan di dalam pasta gigi. Bahkan 66% cadangan air minum warga AS telah dicampuri zat ini secara sengaja. Benarkah fluoride berguna?

Jawaban yang ada mungkin akan mengejutkan kita semua. Fluoride telah diteliti banyak pakar kesehatan dan ternyata ditegaskan mengandung bahan berbahaya bagi tubuh. Antara lain bisa menyebabkan kanker tulang, oestoporosis, masalah persendian, turunnya kadar testoteron dan estrogen, dan sanggup mengkorosi lapisan enamel gigi. Bahkan dikatakan jika fluoride lebih merusak gigi ketimbang garam.

Sekarang, pergilah ke toko atau super market yang ada. Carilah racun tikus. Dan lihatlah, apa bahan utama pembuat racun tikus? Yakni Sodium Fluoride. Ini adalah zat kimia ionik yang paling beracun setelah Potasium Dikromat. Saat ini, perusahaan-perusahaan besar yang bergerak dalam bisnis air minum dalam kemasan diketahui telah memasukkan fluoride ke dalam produk air minum dalam kemasan mereka. Hal ini dilakukan tanpa membubuhkan keterangan sedikit pun dalam label kemasannya.

Dunia medis juga telah mengetahui jika fluoride juga digunakan sebagai obat anti depresan, yang menghilangkan agresifitas dan motivasi manusia, termasuk menurunkan hasrat untuk berkembang-biak. “Fluoride memang tidak memiliki faktor yang menguntungkan secara biologis, ” tegas Dr. Rima Laibaow dari Natural Solutions Foundation.

Penggunaan Fluoride hanyalah salah satu bagian dari banyak sekali contoh betapa bahan berbahaya disusupkan ke dalam bahan-bahan yang dipergunakan manusia dan bisa masuk ke dalam tubuhnya. Selain Fluoride, kita tentu juga akrab dengan aspartame atau aspartamin, tanpa kita sadari. Untuk yang satu ini, mungkin kita masih merasa asing dengan namanya, tapi kami yakin jika bahan kimia tersebut sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari.

Aspartame atau aspartamin merupakan bahan kimia yang secara populer disebut sebagai bahan pemanis buatan pengganti gula. Gula memang tidak baik bagi kesehatan manusia, namun zat penggantinya ini ternyata menyimpan potensi kejahatan yang jauh lebih mengerikan. Ironisnya, sejak pertengahan tahun 1995, penggunaan aspartame dari AS telah meluas ke seluruh dunia.

Bahan kontroversial ini sekarang telah disusupkan ke dalam puluhan ribu produk makanan, suplemen vitamin, dan minuman ringan. Padahal banyak penelitian menyebutkan jika bahan ini bisa menyebbakan sakit kepala, tumor otak, dan limpoma. Pada tahun 2004, sebuah film dokumenter berjudul “Sweet Misery: A Poisoned World” dengan jelas memperlihatkan bahayanya zat kimia tersebut.

Jika Anda masuk ke supermarket, daftar bahan pemanis buatan ini dengan muah akan Anda dapati di bagian komposisi suatu makanan atau minuman manis, seperti halnya penggunaan Monosodium Glutamat (MSG) yang juga berbahaya bagi kesehatan.

Beberapa penelitian menyebutkan aspartame sama berbahayanya dengan racun sianida atau pun arsenik yang secara langsung menyerang jaringan saraf manusia, yang dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Hanya saja aspartame bereaksi lebih lama dari suanida maupun arsenik. Nama arsenik sendiri di Indonesia belakangan kembali popuelr seiring tragedi kematian aktivis HAM Munir yang diracun oleh seseorang dengan penggunaan arsenik.

Di Amerika Serikat, negara besar dengan masalah kesehatan serius salah satunya adalah masalah obesitas (kegemukan), bahkan kota Houston disebut sebagai kota orang-orang gemuk AS, berbagai laporan mengenai aspartame cukup mengerikan. Salah satunya adalah grafik kasus kanker payudara yang menunjukkan peningkatan yang selaras dengan peningkatan penggunaan aspartame dalam produk makanan jadi. Hal ini kian memperkuat mengapa pemanis buatan ini harus dicurigai.

Sebelumnya, pemanis buatan berasal dari Saccharin. Zat ini ditemukan pertama kali pada tahun 1879. Pemanis buatan yang kurang dikenal ini tiba-tiba saja menjadi bahan pokok warga sipil ketika semua gula yang ada hjabis karena dikirim ke medan perang untuk konsumsi para tentara pada Perang Dunia I. Namun saat meletus Perang Teluk tahun 1991, sakarin tidak lagi digunakan melainkan diganti oleh aspartame. Zat inilah yang dikirim ke Teluk untuk para tentara dalam bentuk bermacam-macam, antara lain dalam kemasan softdrink diet soda. Panasnya terik matahari wilayah Teluk mengkatalisasi proses kimia yang memecah aspartame menjadi komponen-komponen mautnya. Banyak kalangan curiga jika aspartame adalah biang keladi Gulf War Syndrome, penyakit yang menggerogoti veteran Perang Teluk dengan gejala-gejala seperti sakit kepala, gangguan pernafasan, dan rasa lelah yang berlebihan.

Pakar nutrisi Dr. Rita Laibow dalam acara yang sama (lihat tulisan bagian sebelumnya) dan dalam banyak makalahnya menyatakan jika penggunaan aspartame merupakan salah satu bagian dari strategi pengurangan populasi dunia, seperti halnya penggunaan Fluoride dan MSG.

Steroid Bagi Ayam Goreng

Tahukah Anda jika ayam goreng yang biasa kita jumpai di resto-resto fastfood (baca: junkfood) internasional siklus hidupnya sangat singkat. Dari bentuk telur hingga dewasa tidak sampai memakan waktu dua bulan! Ini dimungkinkan dengan penyuntikan zat hormon yang disebut steroid yang kontinyu ke dalam tubuh ayam tersebut.

Hal ini sudah lazim dilakukan peternakan-peternakan ayam potong yang tersebar di negeri ini, terlebih bagi peternakan-peternakan ayam yang menjadi rekanan kedai-kedai fastfood seperti McD, KFC, dan sebagainya.

Seorang rekan kami yang pernah bertandang ke lokasi peternakan ayam-ayam tersebut menyatakan, “Anda akan tidak mau lagi makan ayam goreng di sana jika mengetahui kondisi ayam-ayam yang ada di peternakannya. Ayam-ayam itu disuntik secara berkala, terus-menerus, dan dalam waktu yang sangat singkat tumbuh dari anak ayam yang kecil menjadi ayam dewasa yang sangat tambun, sehingga untuk berdiri dan berjalan saja tidak mampu. Ayam-ayam tambun hasil suntikan tersebut hanya bisa duduk diam menunggu diambil untuk dipotong dan dikirim ke gerai-gerai restoran fasfood yang kita sudah kenal. Ayam-ayam ‘sakit’ itulah yang biasa kita makan di gerai-gerai fasfood tersebut.”

Dalam film garapan sutradara AS Morgan Spurlock (Super Size Me), disebutkan jika steroid yang disuntikan ke dalam ayam-ayam tersebut tidaklah hilang saat digoreng, sehingga steroid tersebut ikut masuk ke tubuh manusia yang memakannya. Hasilnya? Tubuh manusia yang memakannya sedikit demi sedikit menyimpan hormon pertumbuhan yang membahayakan tersebut dan tumbuh secara tidak wajar. Kita bisa melihat betapa di zaman sekarang, anak-anak yang tumbuh di wilayah perkotaan tubuhnya dengan cepat tumbuh membesar dan beberapa di antaranya menderita obesitas (kegemukan). Hal ini disebabkan mereka seringkali mengkonsumsi makanan-makanan yang tidak sehat tersebut.

Tubuh yang cepat besar dan tambun tidak menjamin jika tubuh terebut sehat. Adalah fakta jika remaja perkotaan walau tubuhnya besar amat rentan terhadap berbagai jenis penyakit. Jadi, tubuh yang besar itu mirip dengan ayam di peternakan yang disuntik hormon steroid.

Adakah saudari kita yang pernah atau masih memiliki kista di rahimnya? Atau mungkin itu adik, kakak, isteri, anak, atau bahkan ibu kita? Kista adalah massa atau kantung yang berisi darah hitam pekat alias darah sangat kotor. Dalam banyak kasus, dokter biasanya akan merekomendasikan pengangkatan kista lewat jalan operasi. Namun banyak pula, setelah dioperasi dan diangkat ternyata kista bisa tumguh lagi.

Dalam konsultasi dengan dokter, biasanya kita ditanya apakah pasien atau pengidap kista sering mengkonsumsi ayam goreng di resto fasfood, atau bahkan lebih detil lagi seperti apakah sering mengkonsumsi menu chicken wings alias sayap ayam goreng? Dan biasanya sang pasien akan mengangguk. Jika demikian, sudah jelas, sang pasien merupakan salah satu korban dari zat kimia atau hormon steroid yang disuntikkan ke dalam tubuh ayam dan biasanya memang disuntikan lewat bagian sayapnya atau leher. Dua tempat dalam tubuh ayam itulah yang menyimpan konsentrasi steroid yang paling banyak, walau seluruh bagian tubuh ayam pun terpapar steroid tersebut.

Tutup mata kita dan buka kembali dengan paradigma yang benar-benar baru. Pengurangan populasi umat manusia tengah terjadi di sekeliling kita dengan berbagai cara. Ada konflik, peperangan, penyakit, pembunuhan lewat sistem ekonomi, bencana alam buatan, ideologi, sistem demokrasi, dan sebagainya. Dan tahukah Anda jika semua itu terjadi bukan karena faktor kebetulan namun sesuatu yang sudah diskenariokan dengan matang dan amat rapi jauh-jauh hari?

Adakah Anda percaya jika AS menjadi negara super-power satu-satunya di dunia saat ini karena faktor kebetulan? Percayakah Anda jika Imperium Soviet Rusia hancur karena kebetulan? Percayakah Anda jika Zionis-Yahudi berada di belakang semua kerusakan di muka bumi sejak zaman para nabi hingga sekarang? Di dalam kitab suci al-Qur’an, Allah SWT telah berkali-kali menyampaikan firman-Nya jika Yahudi merupakan bangsa perusak, pengkhianat, tidak bisa dipercaya, dan sumber segala kerusakan di muka bumi. Anda harus percaya dengan hal ini. Kian hari kian terkuak segala konspirasi Zionis-Yahudi, pewaris kekuatan paganisme purba, dalam menghancurkan umat manusia lainnya demi mewujudkan ambisinya menciptakan tatanan dunia baru berdasarkan versinya sendiri.

KUOTA CALEG PEREMPUAN

Satu hal yang mungkin belum pernah terlintas di benak Anda adalah strategi pengurangan populasi umat manusia lewat jalan penanaman ideologi atau gerakan ideologi. Feminisme merupakan salah satu gerakan yang melawan fitrah yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia, yang ingin menyamaratakan kedudukan—hak dan kewajiban—antara laki-laki dan perempuan.

Tahukah Anda jika feminisme dalam perwujudan kongkret di dalam sistem demokrasi adalah KUOTA KETERWAKILAN JUMLAH PEREMPUAN dalam struktur pemerintahan, apakah itu anggota legislatif maupun eksekutif. Hal yang paling nyata di depan kita adakah disetujuinya Kuota jumlah 30% keterwakilan perempuan dalam badan legislatif di negeri ini dalam Pemilu 2009. Padahal sudah jelas, dengan kian banyaknya peran perempuan di sektor publik, dengan meninggalkan kewajiban utamanya sebagai sang pendidik di dalam keluarganya, maka hal ini akan menyebabkan banyak sekali kerugian di dalam pendidikan angota keluarganya dan juga mengurangi tingkat fertilitasnya disebabkan kondisi fisik dan otak yang kelelahan.

Ironisnya, ide yang sarat konspiratif dalam menghancurkan sendi-sendi kekuatan keluarga tersebut didukung sepenuhnya oleh partai-partai politik yang berbasiskan umat Islam. Adakah mereka paham dengan hal ini dan tidak perduli atau mereka memang tidak tahu karena kurangnya wawasan dan bahan bacaan?

Adalah BOHONG BESAR jika dikatakan seorang perempuan yang menjadi anggota legislatif, di mana sering kali pulang sampai dini hari disebabkan banyak mengikuti rapat, mampu menjadi sang pendidik utama bagi anak-anaknya di rumah, melebihi “pendidikan” yang diberikan pesawat teve dan lingkungan pergaulannya. Perempuan jenis ini tanpa disadari –dalam banyak kasus—juga sesungguhnya memperbudak perempuan lainnya yang dijadikan sebagai pembantu (khadimat) rumah tangganya. Tiada perempuan yang dianggap berhasil di sektor publik yang tidak lepas dari jasa khadimat di dalam rumah tangganya.

Bagi yang ingin memperdalam kajian soal ini silakan membaca dua buku sebagai pengantar yakni “Evolusi Moral” (Sayyid Quthb) dan “Rekayasa demografis dan globalisasi kerusakan: aspek konspiratif konferensi Kairo dan Beijing” (Ummu Hani, Yayasan Ibu Harapan). Dua buku ini insya Allah akan bisa membuka cakrawala kekritisan kita tentang mengapa konspirasi Yahudi Internasional merasa sangat perlu mengeluarkan para perempuan dari sektor privat ke sektor publik.

Jika kita mengaku sebagai orang yang perduli dengan ayat-ayat Alah, seharusnya kita wajib mengembalikan posisi perempuan ke tempat yang sangat terhormat sebagai Ummu Madrasatun ‘Ula, Sang Pendidik Utama di dalam keluarga, jadi bukan menyerahkan pendidikan anak-anak kita kepada pesawat teve, pembantu, atau guru yang datang ke rumah kita karena mendapat honor. Kita harus menentang dan menolak sunnah-Yahudi, walau langkah itu terkesan kurang populer di masa sekarang. Karena al-haq itu tetaplah al-haq, walau hal itu populer atau tidak.

Di dalam bagian sembilan, akan dipaparkan akhir dari agenda kaum pagan modern ini, dan ikhtisarnya akan menyusul di bagian ke sepuluh. Insya Allah.

Zionis-Yahudi dengan segala hegemoninya atas dunia, dan menunggangi Amerika Serikat sebagai kapal induk baginya merupakan pewaris paganisme dunia purba. Pengikut iblis yang dahulu dikenal sebagai The Broterhood of Snake, Samiri Cabal (di masa Musa a.s.), Sanhendrin Cabal (di masa Isa a.s.), Biarawan Sion, Knight Templar, Freemasonry, Theosofie, dan berbagai nama sekarang ini, Bilderberger, CFR, Club of Rome, IMF, World Bank, The Federal Reserve, dan sebagainya, mengejawantah dan menyatukan diri di dalam kelompok Zionis Dunia.

Akhir dari agenda mereka adalah membentuk Tata Dunia Baru (The New World Order) di mana mereka menjadi majikan bagi semua Ghoyim yang ada di dunia. Tujuan akhir mereka ini telah dipahat dalam lambang negara AS dengan kalimat “Novus Ordo Seclorum”. Dalam menuju akhir agenda ini, kaum pagan modern melewatinya dalam berbagai tahap dan setiap peristiwa senantiasa dikaitkan dengan ritual pagan kuno. Mari kita lihat beberapa peristiwa dunia yang sepertinya tidak memiliki makna apa-apa namun sesungguhnya bagian dari ritual pagan mereka:

Tahun 2012 merupakan batas waktu bagi modernisasi seluruh sistem militer AS di Pentagon, batas waktu bagi pencapaian Codex Alimentarius, batas waktu bagi pencapaian Agenda 21, batas waktu bagi implementasi Perjanjian Kyoto, dan batas waktu bagi banyak agenda-agenda internasional. Mengapa harus 2012?

Jika Anda lupa, maka bukalah kembali kalender purba suku-suku pagan kuno seperti kalender Aztec, suku Maya, suku Hopi, suku Kaliyuga, Mesir kuno, dan lainnya. Kepercayaan paganis mereka, yang diimplementasikan dalam sistem kalendernya berdasarkan perhitungan rasi bintang dan ramalan-ramalan mistis, meyakini jika tahun 2012 merupakan batas antara Tata Dunia Lama (The Ancient World Order) dengan Tata Dunia Baru (The New World Order)!

Di zaman purba, suku-suku pagan biasa mengadakan upacara persembahan korban manusia dan binatang pada dewa-dewi. Dalam budaya pop, film “Apocalypto” besutan sutradara Hollywood yang anti Yahudi Mel Gibson bisa dijadikan gambaran tentang upacara mempersembahkan korban manusia. Upacara yang banyak mengucurkan darah dan menghilangkan nyawa ini diadakan pada momen-momen tertentu. Dalam dunia sekarang, kaum pagan modern juga melaksanakan upacara sejenis hanya saja dalam bentuk yang berbeda tapi memiliki esensi yang sama. Beberapa peristiwa biosa dijadikan contoh:

Pada 20 Maret 2003, Bush melancarkan pemboman terhadap Bagdad tepat pukul 05.15 waktu Bagdad. Serangan itu berlangsung secara massif dan berskala besar hingga keesokan harinya, 21 Maret 2003. Media-media besar dunia menyebutnya sebagai “Shock and Awe” (serangan mendadak, dalam bahasa Jerman disebut ‘Blitzkrieg’). Namun tahukah Anda jika tanggal tersebut dalam agama pagan merupakan perayaan Hari Ostara, awal musim semi yang dimulai dari pergerakan matahari. Dahulu kala, suku-suku kuno merayakannya dengan menggelar ritual pemujaan terhadap Gaia—Dewi Bumi (Mother of Earth)—dengan cara mempersembahkan korban. Sedangkan kaum Druid merayakan hari itu sebagai Hari Kesuburan dengan menggelar acara makan-makan (Day of Feast).

Bush sengaja mengakhiri perang pada 1 Mei 2003. Dalam tradisi pagan kuno, tanggal itu dikenal sebagai Beltane atau Malam Walpurgis. Nama tersebut berasal dari Saint Walpurga, Dewi Kesuburan Kaum Pagan. Dahulu, setiap tanggal 20 Maret hingga 1 Mei, kaum pagan menggelar ritual menumpahkan darah bagi bumi untuk kesuburan.

Presiden Bush jelas telah mengambil momentum keyakinan pagan kuno tersebut. Memulai perang yang banyak menumpahkan darah pada 20 Maret dan mengakhirinya pada 1 Mei.

Bagi yang ingin menelusuri lebih lanjut, tersedia banyak literatur dan data yang memaparkan kepada kita betapa keputusan-keputusan politik dan ekonomi, juga militer, yang besar, yang bersifat global, selalu saja dikaitkan atau bertepatan dengan ritual-ritual mistis kaum pagan. Akan ada banyak fakta yang akan membuat kita tercengang dan sulit untuk bisa mempercayainya. Namun itulah yang terjadi. Semua itu hanya akan berarti bagi manusia yang mau membuka pikirannya terhadap hal-hal yang baru, yang tidak terkungkung oleh paradigma lama, dan menerima semuanya itu sebagai suatu wawasan yang akan memperkaya khasanah pengetahuannya.

Hari-hari ini kita tengah berada dalam pelaksanaan agenda kaum pagan modern. Krisis keuangan yang berawal di Amerika; pilkada yang tiada habis-habisnya menguras energi, pikiran, dan waktu bangsa ini; industri pornografi; mahalnya buku hingga orang lebih suka menonton teve; dunia fesyen yang terus berlari; demokrasi yang kebablasan sehingga partai politik menjadi lembaga elit yang asing dari kebutuhan rakyat banyak; dan sebagainya. Jangan sangka, semua ini terjadi secara kebetulan. Bagi mereka yang mau membuka mata, hati, dan pikirannya, maka mereka akan memahami jika semua manusia sekarang tengah digiring menuju Tata Dunia Baru.

Tulisan panjang ini yang terdiri dari sembilan bagian berusaha memberi wawasan kepada kita tentang wilayah gelap yang terjadi di balik semua kejadian keseharian kita. Bagian kesepuluh ini merupakan ikhtisar dari rangkaian tulisan sebelumnya. Inlah ikhtisarnya:

Kaum pagan adalah kaum yang menyembah banyak tuhan (dewa-dewi) atau polytheisme. Dalam puncak-puncak peradaban kaum pagan terdapat suku Aztec, Maya, Hopi, Kaliyuda, dan yang paling melegenda adalah Mesir Kuno. Dalam penanggalan kalender mereka, semuanya percaya jika di tahun 2012 dunia akan meninggalkan tata dunia lama dan beralih ke tata dunia baru.

Menariknya, momentum yang sama ternyata juga diyakini oleh Konspirasi Yahudi Internasional yang menjadikan tahun 2012 sebagai batas waktu modernisasi Pentagon setelah diubah total paska 11 september 2001, batas waktu bagi pelaksanaan Codex Alimentarius di mana makanan dijadikan senjata bagi pengurangan populasi dunia (salah satu buktinya silakan cari pidato Rockefeller tentang Population Controlling di Youtube) atau baca buku ‘Kendali Korporasi Atas Meja Makan Kita’ oleh Consumers International (2005), batas waktu bagi pelaksanaan Agenda 21 yang melibatkan tokoh-tokoh dunia, dan sebagainya.

Apakah dengan demikian ada benang merah antara suku-suku pagan kuno dengan para tokoh dunia yang merancang tahun 2012 sebagai batas antara Dunia Lama dengan Dunia Baru? Jawabannya adalah tepat. Suku-suku pagan kuno merupakan suku-suku penyembah Dewa Matahari yang namanya di berabgai wilayah dunia berbeda-beda. India menyebutnya Btara Surya, Nippon menyebutnya Amaterasu, Orang Aztec menyebutnya Virachoca, Mesir Kuno menyebutnya Ra, Romawi menyebutnya Helios, orang persia menyebutnya Ahumarazda, dan sebagainya. Mereka terikat oleh satu kepercayaan yang berasal dari sistem kepercayaan kuno Kabbalah yang berasal dari iblis. Sejarawan J. Robinson mencatat jika salah satu pewaris ajaran iblis adalah sekte kuno Brotherhood of snake. Kelompok Persaudaraan Ular.

Selain Matahari, simbol pemujaan ular juga terdapat dalam suku-suku pagan kuno seperti Mesir, Persia, Maya, Aztec, Kaliyuga, Hopi, dan sebagainya. Mereka merupakan nenek moyang dari Konspirasi besar dunai yang kita kenal dengan istilah Zionis Internaisonal. Zionis-Israel sampai hari ini masih menempelkan peta Israel raya yang menelan wilayah utara Saudi, timur Mesir, selatan Turki, barat Irak, seluruh Palestina, Lebanon, dan sebagainya, di mana peta itu bergambarkan seekor ular besar. Ular merupakan binatang utama dalam kepercayaan Talmud, kitab suci kaum Zionis.

Apakah warisan paganisme hanya diwarisi oleh Zionis? Sayangnya, tidak. Lihat tahta Suci Vatikan. Simbol-simbol pagan memenuhi arsitektur kerajaannya. Bahkan tongkat Paus di atasnya ada simbol Dewa Matahari. Demikian juga dengan agama-agama lain. Tidak berlebihan jika dikatakan, agama pagan merupakan agama terbesar di dunia saat ini. Mengapa? Bisa jadi KTP seseorang itu mencantumkan agama Islam, Hindu, Kristen, atau Budha. Tapi lihatlah kepercayaan keseharian mereka ternyata banyak yang masih mewarisi kepercayaan paganisme.

Yang Islam masih saja bersahabat dengan jin, dengan melakukan ritual-ritual penuh kemusyrikan dan khurafat. Iklan di teve yang mengatasnamakan primbon dan segala hal sejenisnya merupakan contoh kecil. Kepercayaan terhadap angka, misal 666, 888, dan 999 juga warisan kaum pagan. Lalu yang Kristen juga demikian, salah satunya mempercayai 25 Desember sebagai hari kelahiran Isa a.s., padahal itu tanggal kelahiran Son of God (Namrudz anak Dewa Matahari) dan beribadah tiap hari Minggu (Sunday = Sun Day, Hari Matahari) padahal Nabi Isa a.s. melakukan ibadah tiap hari. Hindu-Budha tidak beda juga. Sehingga merupakan fakta jika agama pagan merupakan agama terbesar di dunia ini sekarang, walau banyak orang enggan mengakuinya.

Talmud merupakan kitab suci iblis yang diyakini kaum pagan kuno dan juga mewarnai banyak sisi dalam kehidupan dunia dewasa ini. Tak usah jauh-jauh untuk mencari contoh. Buka kartu remi, atau Tarot, hitung jumlahnya, maka akan menemukan angka 13. Atau pergi ke hotel mewah atau gedung perkantoran tinggi, cari lantai 13, Anda tidak akan menemukannya. Atau cari kursi nomor 13 di pesawat, juga tidak ada. Ini hanyalah contoh paling sederhana dari keyakinan paganisme kita. Contoh yang juga kurang kita sadari adalah menempatkan dunia (dunia Materi) di atas akherat (dunia Immateri) atau dengan kata Quranik: Cinta dunia melebihi akherat. Banyakkah dari kita yang bersikap atau berpikiran demikian? Jujur sajalah, banyak sekali.

Ini merupakan keberhasilan kaum pagan mewarnai pola pikir manusia. Kaum pagan modern ini memiliki satu cita-cita: menciptakan Tata Dunia Baru (The New World Order) dimana kaum Yahudi menjadi tuan besar atas umat manusia non-Yahudi (Ghoyim) lainnya.

Percaya atau tidak, saat ini di sekeliling kita tengah terjadi pelaksanaan dari tahap demi tahap pencapaian agenda kaum pagan modern tersebut. Mungkin hari-hari kita selalu dipenuhi dengan duduk di depan pesawat teve, asyik bersenda-gurau di café atau restoran atau di mall, asyik chatting atau main game di depan monitor komputer, asyik menghadiri majelis pemenangan pemilu atau pilkada, asyik mengantre di depan loket bioskop, dan sebagainya. Semua ini memang dibuat untuk menyibukkan dan menguras energi anak cucu Adam agar lengah dari apa yang sesungguhnya tengah terjadi di sekeliling mereka. Pelan tapi pasti, agenda kaum pagan modern alias Zionis Internasional terus berjalan. Dan saat kita menyadarinya, kita terpana: terlambat… Sesal memang selalu belakangan.

Agenda Selamatkan Indonesia (bagian 1-12, tamat) www.eramuslim.com November 20, 2008

Posted by ejemy in Wonderfull Story.
Tags:
add a comment
Hanya dalam hitungan bulan, bangsa ini akan melangsungkan ritual nasional Pemilu. Agar rakyat tidak lagi salah dalam menentukan partisipasinya, maka hendaknya kita mengetahui secara benar masalah apa yang menimpa bangsa ini.

Hanya dalam hitungan bulan, bangsa besar ini akan menyelenggarakan pemilihan umum untuk memilih wakil-wakilnya yang akan duduk di parlemen dan akan disusul dengan pemilihan umum presiden dan wakil presiden.

Jauh sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengetuk palu membolehkan setiap partai politik berkampanye, sejumlah parpol telah menebar janji manis kepada rakyat lewat media massa dan juga pertemuan langsung. Bukan itu saja, sejumlah tokoh nasional tanpa malu-malu juga telah mempromosikan dirinya sendiri di layar kaca dan mengaku sebagai pemimpin masa depan.

Salah satu bola panas menjelang ritual lima tahunan ini adalah wacana terkait usia calon presiden. Ada yang menyatakan agar kaum tua, di atas lima puluh tahun, sebaiknya tidak usah lagi mencalonkan diri jadi calon presiden di tahun 2009. Alasannya, Indonesia dengan segala kompleksitas permasalahannya memerlukan calon pemimpin yang berani, energik, dan bisa cepat serta tepat mengambil tindakan. Kelompok ini melihat orang-orang tua di negeri ini, apalagi muka-muka lama yang pernah memegang kekuasaan, tidak bisa lagi bisa diandalkan untuk membenahi Indonesia.

Sedangkan kelompok yang melihat usia calon presiden tidak perlu dibatasi memandang bahwa wacana pembatasan usia calon presiden tidak tepat dan salah paradigma. Kelompok ini memandang bahwa berani atau tidak dalam memperjuangkan kebenaran, punya nyali atau pengecut, cepat atau lamban dalam mengambil tindakan, semua itu sama sekali tidak terkait dengan usia biologis seseorang. Orang tua maupun muda, ada yang pengecut, ada yang pemberani, ada yang bernyali atau ada yang tidak, ada yang amanah dan ada pula yang khianat. Jadi wacana tersebut sesungguhnya telah salah paradigma sejak awal.

Mencermati janji-janji para tokoh parpol yang akan berlaga, juga agenda mereka (bila menang), ternyata tidak berbeda dengan janji-janji tiga parpol di masa Suharto berkuasa. Semuanya menjanjikan akan membenahi negeri ini agar bisa membawa kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Puluhan tahun rakyat ini telah dicekoki dengan janji-janji politik tersebut yang ternyata selalu saja diingkari dan dikhianati. Sama persis dengan janji yang selalu keluar dari mulut Zionis-Yahudi kepada rakyat Palestina.

Puluhan tahun rakyat Indonesia digiring oleh penguasa untuk mau datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan memilih, namun setiap penguasa baru bersinggasana, setiap kali pula rakyat lagi-lagi (dan lagi-lagi) dibohongi. Kehidupan rakyat kian hari kian susah, kian melarat, dan kian menderita. Di sana-sini anak bangsa putus asa. Sudah banyak yang gantung diri, meracuni anak-anaknya sendiri, yang menjadi gila, karena tidak tahan dengan tekanan hidup yang kian berat.

Di sisi lain, muka-muka baru yang duduk di parlemen, muka-muka baru yang kini tiap hari bersafari, muka-muka baru yang kini bermukim di Istana dan lain-lainnya, dalam tempo singkat kekayaan pribadinya berlipat-lipat. Uang rakyat dijadikan bancakan, dibagi-bagi dalam pos-pos belanja dan pengeluaran yang sama sekali tidak masuk akal dan tidak ada urgensinya.

Ada wakil rakyat yang sebelum 2004 seorang pengangguran atau kerja serabutan, rumah masih ngontrak, namun begitu duduk di lembaga negara, walau di tingkat kabupaten sekali pun, tak sampai dua tahun sudah punya rumah bagus, kendaraan pribadi, dan sederet gadget mahal yang dia sendiri tidak tahu cara menggunakannya. Kisah seperti ini ada di mana-mana.

Laporan Khusus Eramuslim kali ini akan mengangkat tema “Agenda Selamatkan Indonesia”, dengan tujuan agar umat ini tercerahkan dan sadar sesadar-sadarnya tentang kompleksitas permasalahan bangsa ini dan juga cara keluar dari krisis multi dimensi yang sekarang ini kian menggila. Pertanyaan tunggal yang hendak dijawab adalah: Mengapa negeri kaya raya ini sekarang telah berubah menjadi negeri para pengemis, negeri para koruptor, dan negeri para bandit dan bromocorah, baik yang berdasi maupun yang tidak.

Semoga kita semua bisa dengan hati yang jernih, wawasan dan pemahaman yang benar, dapat bersungguh-sungguh menentukan pilihan dalam pesta demokrasi negeri ini di tahun 2009. Memilih adalah hak setiap warga negara yang telah memenuhi segala persyaratan yang ada. Dan hak sekali-kali bukanlah kewajiban. Jadi merupakan hak kita untuk mau datang atau tidak ke TPS. Adalah hak kita untuk mencoblos di dalam kotak atau di luar kotak. Bahkan hak kita pula untuk mencoblos satu kotak atau lebih dari satu kotak. Tidak ada satu pun pihak yang bisa memaksa kita dalam hal ini.

Karena bagi seorang Muslim, yang patut ditaati tanpa reserve dan di-tsiqohi tanpa syarat hanyalah Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Selain itu, kepada alim ulama atau mereka yang mengaku sebagai pemimpin umat, maka kita hendaknya memberikan ketaatan dan ketsiqohan kita sepanjang mereka selaras dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Jika mereka sudah tidak lagi di atas rel yang lurus, maka tidak ada lagi ketaatan dan ketsiqohan kepadanya. Ini semua karena Islam sebagai agama tauhid sama sekali tidak mengenal kerahiban. Setiap manusia bertanggungjawab terhadap Sang Khaliq semata, bukan kepada sesama manusia. Inilah Tauhid yang benar.

Dan apa pun pilihan kita, hendaklah dilakukan dengan kesadaran penuh dan pemahaman yang benar. Karena setiap pilihan kita nantinya akan dipertanggungjawabkan di mahkamah yaumil akhir, apakah pilihan kita benar atau salah, apakah yang kita pilih bisa sungguh-sungguh amanah atau hanya memanfaatkannya untuk memperkaya dirinya sendiri.

Bangsa ini rindu dengan sosok pemimpin yang berani bertindak benar dalam membela keadilan dan melawan kezaliman. Itu saja. Terserah apakah dia itu harus berusia muda atau tua, atau harus sarjana atau bukan. Semua itu bukan hakikat.

Bendera-bendera partai politik sudah berkibaran di sana-sini, tanpa mengindahkan etika dan keindahan lingkungan. Para tokoh parpol sudah mengeluarkan jurus-jurus andalannya untuk menarik perhatian khlalayak. Ada yang lewat survey pesanan, ada pula yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang sayangnya terkesan tidak cerdas seperti batasan usia capres dan juga syarat pendidikan formal capres yang harus tinggi dan ironisnya harus dari perguruan tinggi luar negeri.

Padahal seorang pemimpin yang benar sama sekali tidak ada korelasinya dengan itu semua. Seorang pemimpin boleh berusia muda boleh berusia tua, boleh bergelar doctor luar negeri, boleh pula hanya jebolan sekolah lanjutan tingkat atas dari wilayah tertinggal. Bangsa yang tengah meluncur ke jurang kebinasaan ini sama sekali tidak membutuhkan dagelan-dagelan konyol seperti itu semua.

Seharusnya para tokoh-tokoh parpol bisa lebih arif, bisa lebih cerdas, dan lebih matang dalam melakukan pembangunan karakter bangsanya, dan tidak menunjukkan kebodohannya sendiri. Sosok Bung Karno—dengan segala kelebihan dan juga kekurangannya—patut dijadikan contoh dalam hal Character and Nation Building. Sejak awal, perjuangan bangsa ini adalah berusaha melepaskan diri, memerdekakan dirinya, dari cengkeraman Exploitation de L’homme par L’homme, eksploitasi manusia atas manusia lainnya, yang secara kasat mata beratus tahun lamanya telah dan masih dilakukan negara-negara utara terhadap negara-negara selatan.

Nusantara dengan segala kekayaannya sejak zaman penjelajahan Spanyol dan Portugis, zaman VOC, zaman Nippon, zaman “kemerdekaan”, zaman Orde Baru Jenderal Suharto, hingga zaman yang (katanya) era reformasi ini secara terus-menerus dijadikan bancakan negeri-negeri utara, para imperialis, guna memperkaya negaranya sendiri dan secara otomatis membuat negeri ini sekarat.

Bangsa ini rindu pada sosok pemimpin yang punya nyali besar, keberanian dan harga diri, tatkala berhadapan dengan kekuatan Imperialis dunia seperti Amerika serikat. Pernyataan tegas dari seorang Soekarno, “Go to hell with your aid!” sangat relevan dengan kondisi bangsa ini sekarang. Bangsa ini memerlukan sosok pemimpin yang berani bertindak benar dalam membela keadilan dan melawan kezaliman. Itu saja. Terserah apakah dia itu harus berusia muda atau tua, harus sarjana atau bukan, harus berbadan tinggi besar atau kurus kerempeng, harus berkumis atau klimis, semua itu bukan hakikat.

Parahnya sekarang ini belum terlihat adanya seorang calon pemimpin yang memenuhi kriteria tersebut. Yang dari parpol warisan Orde Baru tentu tidak ada, termasuk mantan-mantan pejabatnya, apakah dia sipil atau militer, dengan parpol baru atau tiga parpol warisan Jenderal Suharto.

Yang mengaku parpol baru dan dengan orang-orang yang baru tampil setelah Jenderal Suharto lengser pun belum ada yang terlihat memenuhi kriteria tersebut. Yang mengusung-usung nama Islam pun sekarang ini terkesan malu dengan Islam-nya dan mulai bergenit-genit ria dengan mulai teracuni virus pluralisme dan terjangkiti penyakit wahn alias cinta dunia berlebihan dan takuuut mati.

Bukan memperkenalkan Islam secara kaffah dan syumuliyah, mereka malah mencari-cari format politik dan strategi di luar agama tauhid ini dengan membuka diri bersahabat dengan para munafikin bahkan dengan kekuatan kafir sekali pun demi meraih kursi kekuasaan. Bahkan mereka rela menggelar panggung dangdutan dan bukan pengajian demi alasan pluralitas. Ribuan alasan memang bisa disodorkan, namun sistem jahiliyah seperti sekarang ini—meminjam perkataannya Ustadz Abubakar Ba’syir, sebagai sistem yang berasal dari “Sunnah Yahudi”—memang nyaris mustahil untuk melakukan dakwah secara benar dan lurus.

Pengalaman Masyumi bisa dijadikan ibrah. Tatkala sistem jahiliyah sudah terlalu perkasa, penguasa sudah terlalu kuat kejahilannya, dan umat belum terbina dengan baik, maka mereka menarik diri dari tataran politik praktis memperebutkan kekuasaan, dan kembali bergerak dalam lahan dakwah di tingkat umat yang sesungguhnya. Kemewahan jabatan dan kedudukan politis sama sekali tidak menyilaukan tokoh-tokoh Masyumi hingga mereka menghadap Rabb-nya. Perilaku inilah yang sekarang ini tidak terlihat dari tokoh-tokoh umat.

Dan kondisinya bisa terlihat seperti sekarang ini, di tengah simbol-simbol Islam yang sangat marak, jilbab sudah menjadi hal yang biasa, masjid-masjid baru bermunculan—bahkan yang berkubah emas sekali pun—kejahatan korupsi, suap, dan segalanya malah tumbuh dengan amat suburnya. Ada sesuatu yang salah dengan dakwah Islam sekarang ini.

Dalam tulisan bagian tiga akan dipaparkan perjalanan pemiskinan dan pembodohan bangsa ini sehingga—mudah-mudahan—bisa membuka kesadaran kita semua bahwa ada agenda besar bagi bangsa ini dalam berjuang memerdekakan dirinya, dan tidak terperosok serta tertipu oleh pernyataan-pernyataan para tokoh parpol yang berupaya hanya mencari sensasi demi meraih suara sebanyak-banyaknya dalam Pemilu 2009.

Bangsa ini dijual oleh Suharto kepada korporasi multinasional Yahudi. Ironisnya, hal ini terus dipelihara dalam era reformasi dan bahkan kini didukung partai-partai politik yang mengaku reformis padahal kenyataannya Suhartois.

Apa persoalan sangat besar yang dihadapi bangsa ini? Jawabannya adalah kemiskinan. Masalah ini diakibatkan oleh dua faktor utama yakni imperialisme negara-negara utara yang berjalan ratusan tahun hingga hari ini atas negeri kaya raya bernama Indonesia, dan kedua, tidak amanahnya (baca: pengkhianatan) yang dilakukan elit politik negeri ini sejak zaman kerajaan hingga zaman ustadz naik Bentley, padahal di tengah-tengah mereka terdapat lautan kemiskinan dan kesengsaraan.

Pengkhianatan elit politik di negeri ini disebabkan mereka tidak memiliki karakter. Jujur saja, para elit politik kita sejak zaman dulu hingga sekarang ini sangatlah pragmatis dan oportunistik, sehingga mereka selalu saja mendahulukan kepentingan keluarga, kelompok, dan golongannya ketimbang rakyat banyak. Dalam hal ini mungkin Presiden pertama RI Bung Karno merupakan perkecualian.

Ketika berbagai kerajaan masih bercokol di Nusantara, sistem feodalisme membuat rakyat banyak hidup dalam kebodohan dan kemiskinan dan sebaliknya, para bangsawan, termasuk raja serta keluarganya hidup dalam kelimpahan harta benda dan segala kenikmatan dunia.

Para penjajah dari negeri-negeri utara melihat bahwa kaum elit ini bisa diajak bersekutu untuk memerangi rakyat banyak. Para penjajah kemudian mempertahankan sistem ini dengan merangkul para bangsawan untuk dijadikan sekutu dan bersama-sama menghisap kekayaan negeri ini dengan menunggangi rakyat banyak. Hal tersebut dilakukan oleh Portugis, VOC, Belanda, Jepang, dan mulai tahun 1967—saat Jenderal Suharto berkuasa dengan mengkudeta Bung Karno—semua kekayaan alam Nusantara mulai dijual dengan harga sangat murah kepada jaringan korporasi multinasional Yahudi yang berpusat di Amerika dan Eropa. Washington sendiri menyebut jatuhnya kekuasaan Bung Karno sebagai “Hadiah besar dari Timur” dan dirayakan dalam acara pesta yang sangat meriah. Tangan CIA memang berlumuran darah dalam peristiwa ini.

Ironisnya, setelah 32 tahun berkuasa, setelah Jenderal Suharto lengser, warisan Jenderal Suharto ini terus dipelihara dalam era reformasi dan bahkan kini didukung partai-partai politik yang mengaku reformis padahal kenyataannya Suhartois. Silakan baca daftar partai politik apa saja yang mendukung pengelolaan Blok Cepu oleh Exxon Mobil, misalnya, atau partai politik mana saja yang mendukung dinaikkannya harga BBM negeri ini dengan harga BBM New York sesuai Konsensus Washington, atau partai politik mana saja yang membatalkan gugatan parlemen terhadap kasus BLBI yang telah merampok uang rakyat dalam jumlah yang sangat besar. Mereka semua Suhartois.

Bisa jadi, sebab itulah ketika Jenderal Suharto meninggal, ada sejumlah elit partai yang memohon-mohon agar bangsa ini memaafkan dosa-dosa Suharto, bahkan sampai menyambangi rumah SBY di Cikeas dan memasang iklan besar di suratkabar nasional segala.

Siapa pun yang sadar sejarah pasti tahu jika Orde Baru Suharto tumbuh di atas genangan darah jutaan rakyatnya sendiri yang dibantai pada pekan ketiga Oktober 1965 hingga bulan-bulan pertama tahun 1966, sebuah kejahatan yang melebihi kebiadaban rezim Polpot di Kamboja. Sarwo Edhie, mertua Presiden SBY yang di tahun 1965-1966 menjadi algojo-nya Suharto dengan bangga menyebut angka 3 juta rakyat Indonesia yang dibunuhnya (John Pilger: The New Rules of the World). Sejarah bangsa ini diam seribu bahasa atas tragedi besar tersebut.

Dan ingat, kekuasaan tiranik Orde Baru bisa langgeng selama 32 tahun dengan melakukan pembunuhan terhadap ribuan umat Islam di Aceh, Lampung, Priok, dan sebagainya. Umat Katolik pun mereka bantai dalam tragedi pekuburan Santa Cruz di Dili pada Nopember 1991.

Dari Berdikari ke Ketergantungan

Selama 32 tahun masa kekuasaannya dan diteruskan selama 10 tahun era reformasi, bangsa ini terus dibohongi oleh para elit negara tentang peristiwa 1965. Penafsiran tunggal atas tragedi di tahun itu adalah pemberontakan PKI atas NKRI yang Pancasilais. Padahal, sekarang ini dokumen-dokumen CIA telah banyak yang dideklasifikasikan dan mengakui jika tragedi 1965 itu merupakan hasil konspirasi CIA bersama segelintir orang-orang Indonesia yang masuk dalam kelompok Klandestin bernama Van Der Plas Connection yang tersebar di dalam tubuh AD, ada yang menyusup ke PKI, dan para ekonom didikan Universitas Berkeley AS atas arahan Guy Pauker, dari Rand Corporation dan juga tokoh CIA.

Tujuan sesungguhnya dari gerakan Van der Plas Connection adalah menjadikan bangsa kaya raya, sebuah negeri Muslim terbesar di dunia ini, sebagai sapi perahan kekuatan imperialisme Barat yang dikomandoi AS. Bung Karno merupakan penghalang besar bagi upaya jahat tersebut (ucapan Bung Karno yang terkenal: Go to Hell With Your Aids!”) sehingga harus disingkirkan. AS mempergunakan strategi memanfaatkan anak negeri ini yang bersedia diajak kerjasama untuk menjual bangsanya sendiri. AS membina segelintir elit Indonesia lewat dua bidang: militer dan teknokrat.

Para perwira yang kebanyakan dari AD diberi pelatihan militer di AS di Fort Leavenworth dan Fort Bragg. Sedangkan untuk para teknokrat, kebanyakan ekonom dan dari PSI, dididik di Berkeley University, Cornell, MITT, Harvard, dan sebagainya. Hal ini telah dimulai sejak tahun 1950.

Setelah Soekarno dan para pendukungnya dihabisi, dua ujung tombak AS ini—para perwira AD dan para ekonom binaan Amerika—memasuki pusat kekuasaan. Dan benar saja, di awal kekuasaannya, Jenderal Soeharto lengsung mengundang IMF dan Bank Dunia untuk merampok negeri ini. Pada Nopember 1967, Suharto juga mengirim satu tim ekonom—yang disebut Rockefeller sebagai “The Berkeley Mafia”—ke Swiss menemui para gembong korporasi multinasional yang antara lain Rockefeller sendiri.

Mereka sampai kini masih bisa menikmati kekayaannya. Bahkan di era reformasi pun mereka selamat, karena tokoh-tokoh muda yang katanya reformis pun ternyata sudi bersahabat dengan mereka ketimbang menyeret mereka ke muka hukum.

Pertemuan antara para ekonom suruhan Jenderal Suharto dengan para CEO korporasi multinasional di Swiss, Nopember 1967, membahas satu agenda sangat penting: penjajahan ekonomi dan politik Indonesia oleh Barat (baca: Yahudi). Indonesia diwakili Mafia Berkeley generasi pertama, juga Hamengkubuwono IX dan Adam Malik. Sedangkan para pengusaha multinasional antara lain adalah David Rockefeller.

Dr. Brad Sampson, saat meraih PhD dari Northwestern University AS menyusuri pertemuan ini dengan promotornya, seorang Indonesianis kritis bernama Prof. Jeffrey Winters. John Pilger dalam bukunya “The New Rules of the World” mengutip hasil penelitian Sampson tersebut. Inilah sebagian kutipannya:

“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka hasil tangkapannya itu dibagi-bagi. The Time Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi perampokan kekayaan alam Indonesia.

Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya.”

Di seberang meja, duduk orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller dan pengusaha-pengusaha Yahudi lainnya disebut sebagai ‘ekonom-ekonom Indonesia yang korup’.

“Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ‘The Berkeley Mafia’ karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai pengemis yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikannya yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya. Tim Ekonomi Indonesia menawarkan: tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar.”

“Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi sektor demi sektor.” Prof. Jeffrey Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dengan cara yang amat spektakuler.”

Jeffrey Winters melanjutkan, “Mereka membaginya dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar satunya, perbankan dan keuangan di kamar yang lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, mengatakan, ‘Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini, ini, dan ini.’ Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi. Tentunya produk hukum yang sangat menguntungkan mereka. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.”

Freeport mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis berhak menebangi hutan-hutan tropis di Kalimantan, Sumatera, dan Papua Barat.

Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan terburu-buru disodorkan kepada Presiden Soeharto membuat perampokan negara yang direstui pemerintah itu bebas pajak untuk lima tahun lamanya (UU PMA Nomor 1/1967). Selama itu pula rakyat terus menerus dibohongi dengan idiom-idiom bagus tentang pembangunan, Pancasila, dan trickle down effect dan sebagainya namun pada kenyataannya terjadi pemiskinan rakyat banyak secara sistematis.

Elit kekuasaan menjadi satu kelas tersendiri yang hidup dalam kelimpahan dan kemewahan, hasil dari tetesan dollar yang berasal perampokan besar-besaran atas kekayaan alam bangsa ini. Mereka inilah cikal bakal kelas elit Indonesia yang terpusat pada Keluarga Cendana, yang sampai sekarang ini masih bisa menikmati kekayaannya dan bahkan di era reformasi saat ini tetap selamat, karena tokoh-tokoh muda yang mulai berkuasa di era reformasi ini ternyata sudi menjadi sahabat kroni-kroni Suharto tersebut ketimbang menyeret mereka ke muka pengadilan yang sesungguhnya.

Nyata tapi secara rahasia, kendali ekonomi Indonesia sesungguhnya telah pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah negara Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia, serta World Bank dan IMF (International Monetery Fund). Lagi-lagi komplotan Zionis Internasional.

Siapa kira, hanya berselang 38 tahun setelah “perjanjian iblis” antara Mafia Berkeley-nya Orde Baru dengan dunia imperialisme Barat, di pertengahan tahun 2005 Indonesia telah mengalami kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Walau Menteri Sumber Daya minyak Purnomo Yusgiantoro berkilah jika kelangkaan minyak lebih disebabkan terhambatnya proses distribusi Pertamina, namun faktanya, di sejumlah SPBU di Jakarta awal Juli 2005 telah mengalami defisit stock premium.

Data dari beberapa sumber yang bisa dipercaya mengungkapkan jika cadangan potensial minyak bumi Indonesia saat ini telah jauh berkurang dan tinggal untuk beberapa tahun lagi. Cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan akan habis tahun 2015, cadangan gas bumi sampai 2035, dan cadangan batubara hanya sampai tahun 2055. Krisis energi pada gilirannya akan menjadi kudeta energi dan national krisis yang sesungguhnya, yang didahului oleh krisis keimanan, krisis nurani, dan krisis akidah, di mana yang haram dijadikan halal dengan berbagai istilah dan pembenaran sehingga seolah-olah boleh dalam kacamata syariat.

Namun nurani yang bersih akan tetap bisa memilah, mana yang halal dan mana yang sesungguhnya haram namun “dihalalkan”. Mana yang berjuang menghidupi Islam, dan mana yang menumpang hidup dari Islam (baca: menunggangi umat).

Bung Karno berusaha membangun bangsa ini dengan kemandirian secara ekonomi dan politik, namun oleh Suharto prinsip tersebut diganti dengan ketergantungan dan penjajahan ekonomi dan politik oleh asing terhadap bangsanya sendiri.

Sejak diobralnya kekayaan alam Nusantara oleh para ekonomnya Suharto kepada berbagai korporasi asing di Swiss tahun 1967 tersebut, yang mana undang-undang tentang usaha penanaman modal dan sebagainya juga dirumuskan di sana sesuai kehendak dari pihak asing, maka sejatinya negeri kaya raya ini telah kembali ke alam penjajahan.

Jika Bung Karno berusaha membangun nasional dan karakter bangsa ini dengan kemandirian secara ekonomi dan politik, maka oleh Jenderal Suharto prinsip tersebut diganti dengan ketergantungan dan penjajahan ekonomi dan politik oleh asing terhadap bangsanya sendiri.

Secara kasat mata, awal pemerintahan Orde Baru-nya Suharto ini memperlihatkan pembangunan fisik yang sungguh hebat dan cepat. Tahun 1970-an oil booming melanda negeri ini dan membuat segelintir elit penguasa dan pengusaha yang berkolusi menjadi makmur. Kunio Yoshihara menyatakan di dalam bukunya yang sempat dilarang oleh Orde Baru “Kapitalisme Semu Asia Tenggara”, bahwa pembangunan yang terjadi di Indonesia merupakan pembangunan yang rapuh karena sepenuhnya disokong oleh utang.

Yoshihara juga menulis bahwa elit politik dan ekonomi di negeri ini bisa hidup makmur, di tengah lautan kemiskinan bangsanya, karena adanya KKN antara “Ali” dengan “Baba”. Ali di sini istilah terhadap para pejabat dan pengusaha melayu, sedangkan Baba merupakan istilah bagi cukong-cukong Cina yang diuntungkan oleh pejabat-pejabat birokrat dan penguasa Melayu tersebut. Dengan kata lain, elit penguasa negeri ini bisa hidup makmur dengan cara menikmati komisi dari usahanya menjual kekayaan alam negerinya sendiri kepada asing.

Para birokrat negeri ini hanya berperan sebagai semacam stempel bagi pengusaha untuk bisa terus mendapatkan keuntungan finansil dari upayanya itu. Arief Budiman, sosiolog Indonesia yang kini menetap di Australia di dalam bukunya “Krisis Tersembunyi dalam Pembangunan, Birokrasi-Birokrasi Pembangunan’ (1988) menulis, “Dari sepuluh kebijakan yang dikeluarkan oleh birokrat maka sembilannya merupakan kebijakan yang semata-mata menguntungkan dirinya sendiri”.

Di masa Orde Baru, kekuasaan dan kekayaan berpusat di Cendana. Siapa yang bisa mendekati Cendana, tidak gratis tentunya, maka dia bisa mudah dalam berusaha atau berdagang, dalam mendapatkan modal dari perbankan misalnya.

Hal yang paling mencolok terjadi pada pertengahan tahun 1990-an saat Bank Indonesia menggelontorkan kredit ratusan triliun rupiah kepada para konglomerat dengan skema “Kredit Likuiditas Bank Indonesia’ (KLBI) untuk membantu kesehatan usaha mereka. Uang rakyat dijadikan bancakan untuk para konglomerat yang ternyata juga meminjam dalam jumlah sangat besar kepada pihak asing asing.

Ada hal yang aneh dalam krisis ekonomi di tahun 1997. Pada medio 1996, setahun sebelum krisis dimulai, terjadi pemindahan dana secara besar-besaran dengan nominal lebih dari US$100 miliar “milik” swasta dari bank-bank di Indonesia ke bank-bank di Singapura. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa sebenarnya para konglomerat yang kebanyakan sipit itu sudah tahu—atau malahan bersekongkol—bahwa pialang Yahudi George Soros akan memborong dollar AS secara besar-besaran di tahun 1997 dari seluruh pasar mata uang Asia.

Rachmat Basoeki, Koordinator Front Anti Konglomerat Koruptor (FAKTOR) membagi kasus ini menjadi Tujuh periode Penjarahan Uang Rakyat, yakni:

• Periode pertama, 1985-1996: Penjarahan dana KLBI.

• Kedua, 1988-1996: Penjarahan oleh perbankan swasta via Pakto 88.

• Ketiga, 1998-1999: Penjarahan dana BLBI.

• Keempat, 1998: Utang dolar konglomerat ditanggung BPPN/rakyat.

• Kelima, 1998-1999: Penjarahan bunga deposito.

• Keenam, 1998-2000: Penjarahan dana rekapitalisasi.

• Ketujuh, 1998-2000: Penjarahan melalui BPPN.

Periode pertama,

Penjarahan dana KLBI, yang merupakan pengurasan kantong BI untuk mengisi kantong konglomerat, terjadi selama tahun 1985-1996. Ba’da tragedi Priok yang membuat masyarakat ketakutan untuk mengeluarkan kritik, Trio RMS (Radius Prawiro—Adrianus Mooy—JB Sumarlin) yang semuanya non-Muslim pada tahun 1985 secara diam-diam melalui BI meluncurkan skim Kredit Pembauran untuk industri. Ini kredit besar untuk industri tanpa agunan tambahan, karena agunannya adalah proyek industri yang dibiayai KLBI itu sendiri. Dengan alasan, mempercepat industrialisasi di Indonesia, kredit besar-besaran melalui KLBI dikucurkan pemerintah.

Sejak tahun 1985, di bawah kepemimpinan dewan moneter RMS (Radius-Mooy-Sumarlin) dengan operator Deputi Gubernur BI (d/h Direktur BI) Hendrobudiyanto, bermunculanlah konglomerat baru di Indonesia, akibat dikucurkannya KLBI. Presiden Soeharto merestui kebijakan moneter itu karena anak-anaknya juga mendapat guyuran KLBI.

Dalam periode 1985-1988, KLBI yang dikucurkan tidak kurang dari 100 triliun rupiah, jumlah yang pasti sulit dilacak karena terbakarnya gedung tinggi BI (Jalan Thamrin, Jakarta) yang penuh berisi dokumen ini pada Desember 1997 (disengaja?). Sebagian besar dokumen milik 15 bank yang dilikuidasi pada November 1997 ludes dilalap api, yang menyebabkan Tim Investigasi BPK dan BPKP mengalami kesulitan menelusuri pengucuran dan penggunaan KLBI/BLBI 15 bank tersebut. Jumlah Rp 100 triliun itu amat besar, mengingat waktu itu kurs dolar Amerika ‘cuma’ berkisar pada angka Rp 1.000. Dengan kurs satu dolar AS setara dengan Rp 9.000, – saja, maka jumlahnya menjadi Rp 900 triliun! Inilah jumlah uang rakyat Indonesia yang masuk ke kantong para konglomerat dalam skema KLBI!

Hanya Indonesia di bawah Soeharto yang berani—atau tolol?—menempuh jalan ini. Hal tersebut bisa jadi sangat terkait dengan Bail-out game scenario yang sudah dicanangkan berpuluh tahun lalu oleh para bankir Yahudi terhadap Indonesia.

Setelah KLBI, maka dalam periode kedua yang terjadi selama 1988-1996, penjarahan uang rakyat oleh perbankan swasta yang direstui oleh pemerintahannya Suharto kembali terjadi dengan kebijakan Pakto 88.

Periode Kedua

Setelah Konglomerat merampok uang BI lewat KLBI, maka Menkeu JB Sumarlin pada 27 Oktober 1988 mengeluarkan Pakto 88 yang membuat para konglomerat bisa lebih kaya lagi, dan bangsa ini lebih miskin-melarat. Pakto 88 merupakan peraturan yang memudahkan masyarakat yang ingin membuka dan mengembangkan bank dengan modal sangat ringan (hanya Rp 10 miliar), dan syarat personalia yang ringan pula, sehingga kelak terbukti, orang bermental rampok bisa menjadi komisaris dan direktur bank swasta nasional.

Para pedagang dan konglomerat yang berkat Pakto 88 mendadak menjadi bankir yang jauh dari sikap hati-hati dan bahkan serakah. Terbukti, hal ini berperan besar dalam menghancurkan fondasi ekonomi nasional dan moneter.

Lewat bank-bank baru yang bermunculan pasca Pakto 88, hasil kolusi antara pengusaha dengan birokrasi, rakyat ditipu untuk menyimpan uang di berbagai bank swasta dengan iming-iming bunga menarik dan hadiah gede-gede-an. Namun nyaris luput dari perhatian, dalam masa itu, sedikit sekali rakyat pribumi yang memperoleh kredit bagi usahanya yang produktif.

Setelah berhasil menyedot dana dari rakyat dalam jumlah besar, sebagian besar dananya disalurkan ke grup perusahaan sendiri. Di negara maju, praktek jahat yang melanggar BMPK ini dikategorikan suatu kejahatan besar pidana dan bankirnya bisa diseret ke muka hukum, sedang di Indonesia cukup dengan KUHP: Kasih Uang Habis Perkara. Dengan cara kedua ini akhirnya bukan hanya kantong BI yang dikuras, tapi juga kantong rakyat disedot ke kantong konglomerat melalui jalur perbankan.

Periode ketiga

Penjarahan dana BLBI, yang merupakan pengurasan kantong BI sampai bangkrut oleh konglomerat berlangsung selama 1998-1999. Pemilik bank-bank swasta yang berdiri hasil Pakto 88, memanfaatkan bank miliknya itu justru untuk menghimpun dana masyarakat untuk disalurkan kepada grup usahanya sendiri. Ketika kreditnya macet (atau sengaja dibikin macet), maka terjadilah rush, pengambilan besar-besaran dana simpanan oleh para nasabahnya.

Macetnya kredit para bankir ini terkait manuver pialang Yahudi George Soros yang tiba-tiba (sebenarnya sudah direncanakan jauh hari) memborong mata uang dolar AS dari seluruh pasar mata uang di Asia. Akibatnya dolar AS menjadi barang langka dan kursnya meroket terhadap mata uang Asia. Krisis moneter berawal dari sini.

Di saat bersamaan, utang para pengusaha yang dimanja pemerintah ini terhadap kreditor asing jatuh tempo. Mereka harus membayar utang beserta bunganya yang tinggi dalam bentuk dollar AS kepada kreditor asing ini. Maka terjadilan kredit macet. Para pengusaha ini tidak mampu membayar utang dollarnya itu. Kebangkrutan bank-bank swasta di Indonesia menjadi satu keniscayaan. Ini tidak terjadi hanya di satu bank, namun banyak dan bergantian secara terus-menerus.

Dengan dalih mencegah hancurnya sistem perbankan dan perekonomian nasional, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang amat sangat melindungi dan menguntungkan para bankir jahat tersebut. Keluarlah Keppres No 24 dan No 26 tahun 1998 tentang jaminan pemerintah atas uang masyarakat yang disimpan di bank-bank pemerintah maupun swasta, serta pemberian jaminan atas kewajiban bank di dalam negeri kepada nasabah maupun kepada kreditor di luar negeri berdasarkan Frankfurt Agreement.

Pada bulan Juni 1998, pemerintah membayarkan utang bank swasta nasional dengan dana segar 1 miliar dolar kepada bankir luar negeri tanpa verifikasi BPK/BPKP. Ini berarti, para bankir jahat itu yang ngutang dan menikmati uangnya, namun yang membayar utangnya adalah rakyat Indonesia!

Dalam memenuhi kewajiban pemerintah tersebut, BI menyediakan dana talangan yang direalisasikan dalam bentuk fasilitas BI yang lebih dikenal dengan BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). BLBI ini dikucurkan kepada bank-bank nasional dengan syarat yang sangat ringan. Peluang ini dimanfaatkan secara optimal oleh para bankir jahat yang memang sudah ikut membidani (kolusi dengan berbagai pejabat negara) lahirnya kebijakan ini, sehingga dalam waktu yang relatif singkat terkucurkan dana BLBI sebesar 164, 54 triliun rupiah hanya untuk 54 bank nasional pada posisi per 29 Januari 1999.

BLBI itu antara lain diterima Syamsul Nursalim (BDNI) sebesar Rp 37, 040 triliun, Liem Sioe Liong (BCA) Rp 26, 596 triliun, Usman Admajaya (Bank Danamon) Rp 23, 050 triliun, Bob Hasan (BUN) Rp 12, 068 triliun, dan Hendra Rahardja (BHS) Rp 3, 866 triliun.

Sejak 29 Januari 1999, dari jumlah BLBI sebesar Rp 164, 54 triliun tersebut, sebesar Rp 144, 54 triliun di antaranya dialihkan oleh BI kepada pemerintah dalam hal ini BPPN. Sedangkan Rp 20 triliun lainnya menjadi penyertaan modal pemerintah (PMP) pada PT BEII (Persero). Dengan demikian sejak tanggal tersebut dana BLBI beserta bunganya menjadi beban dan tanggung jawab pemerintah, berarti beban rakyat.

Hasil audit investigasi BPK menunjukkan bahwa potensi kerugian negara mencapai 138, 4 triliun atau 95, 8 persen dari total BLBI sebesar Rp 144, 5 triliun yang dikucurkan per 29 Januari 1999. Sebesar Rp 138 triliun adalah BLBI yang disalurkan menyimpang, lalai, dan sistemnya lemah. Total BLBI yang diselewengkan bankir iblis, konglomerat koruptor, mencapai Rp 84, 5 triliun atau 58, 7 persen dari Rp 144, 5 triliun BLBI. Jenis penyimpangannya meliputi penggunaan BLBI untuk kepentingan kelompoknya sendiri, melunasi pinjaman, membiayai kontrak baru, ekspansi kredit, dan investasi seperti membuka cabang baru, dan sebagainya.

Harus dicatat, tidak ada satu pemerintah di seluruh negara di dunia ini pun yang berani mengambil-alih utang bank swasta. Di luar negeri, kalau terjadi rush yang mengakibatkan suatu bank menjadi bangkrut, maka pemerintah tidak campur tangan. Pemilik bank yang bangkrut harus mengembalikan semua simpanan nasabah dan semua utangnya. Kalau tidak sanggup, maka pemerintah akan melakukan tindakan hukum. Hanya Indonesia di bawah Soeharto yang berani—atau tolol?—menempuh jalan ini. Hal tersebut bisa jadi sangat terkait dengan Bail-out game scenario yang sudah dicanangkan berpuluh tahun lalu oleh para bankir Yahudi terhadap Indonesia. Dan ironisnya, setelah Suharto tiada, penguasa selanjutnya tetap saja melestarikan ketololannya ini.

Di republik ini memang aneh. Banyak bank-bank yang bangkrut, tapi para bankir bisa tetap hidup supermewah, bebas berkeliaran berpesta-ria, bagai kaum jetset kelas dunia. Sedang pemerintah menalangi utang raksasa mereka dengan uang rakyat.

Periode keempat, karena tidak mampu keluar dari krisis, akhirnya pada tahun 1998 Soeharto menyerahkan penyelesaian krisis ekonomi kepada Dana Moneter Internasional (IMF). Di depan ‘dokter’ IMF, terbongkarlah borok-borok perekonomian Indonesia yang selama ini ditutup-tutupi. Ternyata pemerintah punya utang luar negeri sebesar 60 miliar dolar. Ironisnya, para konglomerat Indonesia punya utang di luar negeri yang lebih besar dari pemerintahnya sendiri, yaitu sebesar 75 miliar dolar!

Kreditor swasta luar negeri meminta bantuan dari pemerintah negaranya masing-masing untuk menagih piutang mereka yang macet pada konglomerat Indonesia. Pemerintah asing kemudian menalangi uang pinjaman para kreditor swasta, warga negaranya. Selanjutnya gantian, pemerintah negara asing itu menekan Indonesia untuk dapat mengambil-alih utang swasta, di antaranya lewat “dokter” IMF.

Akhirnya pemerintah mengambil-alih utang konglomerat kepada kreditor luar negeri. Pemerintah mengambil-alih tanggungjawab utang kepada luar negeri, sedang konglomerat yang punya utang ke luar negeri mengalihkan utangnya kepada pemerintah yakni BPPN. Berdasarkan Frankfurt Agreement, Juni 1998, pemerintah membayar utang bank swasta nasional dengan dana segar 1 miliar kepada bankir luar negeri tanpa verifikasi BPK/BPKP.

Begitu enak menjadi konglomerat Indonesia dan begitu tega pemerintahan Soeharto kepada rakyatnya. Para konglomerat itu berutang ke luar negeri tanpa minta persetujuan lebih dulu dari pemerintah, tetapi ketika utangnya macet, kewajibannya kemudian diambil-alih pemerintah, tentunya dengan uang milik rakyat yang kian miskin dan sengsara.

Utang konglomerat kepada luar negeri yaitu sebesar 75 miliar dolar. Dengan kurs Rp 8.000, jumlah itu mencapai Rp 600 triliun. Utang sebesar itulah yang harus ditanggung rakyat, padahal dengan biaya beberapa triliun rupiah saja krisis Aceh, Ambon-Maluku, Poso, Irian Jaya dan daerah-daerah lain bisa diselesaikan dengan pembangunan proyek-proyek sosial ekonomi yang memberdayakan rakyat.

Periode kelima, penjarahan dana rakyat melalui rekapitalisasi berlangsung selama 1998-1999. Adalah penting jika bank-bank BUMN milik pemerintah direkapitalisasi alias diberi suntikan tambahan modal untuk bisa melakukan aktivitas perbankan dengan normal. Tetapi bank-bank nasional swasta yang sudah menyelewengkan dana KLBI dan BLBI maupun melanggar BMPK untuk kepentingan usahanya sendiri kemudian direkapitalisasi. Apa gunanya bagi rakyat?

Soal rekapitalisasi bank-bank swasta nasional, pemerintah sudah terjebak Keppres No 24 dan No 26/ 1998. Langkah apapun yang akan dipilih, pemerintah harus memikul beban yang berat. Bila dilikuidasi, pemerintah harus menyediakan (mengeluarkan) biaya lebih dari Rp 600 triliun. Bila direkapitalisasi harus menyediakan biaya lebih dari Rp 400 triliun.

Untuk membiayai dana rekapitalisasi tersebut, pemerintah telah (dan akan) menerbitkan obligasi seluruhnya senilai Rp 430 triliun. Dari obligasi yang sudah diterbitkan dan sudah dimasukkan sebagai aset produktif bank-bank yang sakit, sebagaimana tercantum dalam penjelasan APBN tahun 2000, bunga obligasi yang akan dibayar oleh pemerintah dan telah dibebankan pada APBN tahun 2000 tercatat sebesar 42 triliun. Dan yang akan dibebankan pada APBN tahun 2001 berjumlah Rp 80 triliun.

Tapi ternyata Menko Ekuin Kwik Kian Gie menyatakan bahwa pemerintah dalam rangka rekapitalisasi sudah menerbitkan obligasi sebesar Rp 650 triliun dengan bunga atas beban APBN 2000 sebesar Rp 42 triliun. Program rekapitalisasi melalui penerbitan obligasi ini ternyata tidak mampu menggerakkan roda perekonomian nasional yang sudah lama lumpuh, hanya mampu memperbaiki posisi CAR-nya. Hal ini karena obligasinya tidak (atau kurang) likuid sehingga sulit dicairkan (dijual) di pasar modal. Sementara itu negara (rakyat) tetap harus menanggung beban bunganya.

Kebijaksanaan pemerintah mensubsidi para konglomerat lewat program kekapitalisasi perbankan sangat tidak adil dan melukai hati rakyat bila mereka tahu. Para konglomerat yang sudah terbukti membuat ekonomi Indonesia berantakan malah mendapat suntikan modal ratusan triliun rupiah (yang sebelumnya telah berhasil membobol uang rakyat melalui BLBI sebesar Rp 164, 54 triliun). Sementara subsidi untuk perekonomian rakyat banyak, seperti pengadaan pupuk untuk puluhan juta petani sebesar Rp 3 triliun saja malah dicabut.

Seharusnya pemerintah tidak boleh begitu saja mengalokasikan pengeluaran sejumlah dana sebagai biaya bunga obligasi pada APBN guna menyuntik bank-bank yang bermodal minus. Ini harus ada batasan karena ini menggunakan uang rakyat. DPR juga harus secara tegas menolak kebijakan pemerintah ini. Ketua BPK Satrio B Joedono dalam laporan investigasi BPK atas BLBI menyatakan bahwa negara terancam rugi Rp 138 triliun akibat dana BLBI yang disalurkan secara ngawur, baik oleh BI maupun bank swasta penerima BLBI.

Di republik ini memang aneh. Banyak bank-bank yang dilikuidasi, di-BBO-kan, di-BTO-kan, atau di-BBKU-kan atau yang semuanya itu artinya bangkrut, tapi para bankir (pemilik dan pengelolanya) hidup supermewah, bebas berkeliaran berpesta-ria, bagai kaum jetset kelas dunia.

Kalau keadaan ini dibiarkan, bukan hal yang mustahil para bankir nakal, para pejabat BI, dan para oknum penegak hukum ber-KKN dalam merampok uang rakyat melalui sistem dan jaringan perbankan nasional ini akan ramai-ramai diseret, dikeroyok, dan dibakar massa. Sekarang, hal ini belum terjadi karena sebagian besar rakyat Indonesia masih belum paham semua peristiwa ini, tidak tahu besarnya uang yang dirampok oleh para konglomerat dengan cara tindak kejahatan melalui sistem dan jaringan perbankan. Atau mungkin pula dibodohi tokoh-tokoh parpol yang memiliki kepentingan sesaat demi memperkaya diri dan keluarganya sendiri.

Jadi pejabat kini menjadi lahan profesi baru, di mana partai politik menjadi kendaraan yang efektif untuk itu. Banyak pengangguran intelektual—orang-orang lulusan perguruan tinggi namun miskin kreativitas—yang melirik lahan profesi baru ini.

Rezim Orde Baru Jenderal Suharto berkuasa di atas genangan darah jutaan rakyatnya sendiri yang dibantai tanpa ampun selama periode pekan ketiga Oktober 1965 hingga awal 1966. Pada bulan November 1967, atas suruhan Suharto, tim ekonominya telah menggadaikan sebagian besar kekayaan alam negeri ini di atas meja sejumlah korporasi multi nasional untuk disantap sesukanya. Sebagai imbalannya, para birokrat negeri ini, para pejabat yang berada di sekitar Suharto, bisa hidup dengan penuh kemewahan atas usahanya menjual negara ini.

Selama 32 tahu masa kekuasaannya, mental birokrat negeri ini dididik agar menjadi tuan, bukan pelayan, rakyat. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, dijadikan program bersama, baik secara terselubung maupun terang-terangan. Dengan dana dari utang luar negeri, Indonesia melakukan pembangunan fisik yang dipusatkan di pulau Jawa, sementara rakyat di pulau-pulau di luar Jawa terabaikan. Proses pemiskinan berjalan dengan pasti. Kian hari kian dalam kesenjangan ekonomi dan akses politik serta pendidikan antara lapisan birokrat dan teknokratnya Suharto dengan rakyat banyak. Jurang kesenjangan sosial makin dalam dan makin lebar.

Negeri besar ini bagaikan balon yang terus ditiup tanpa perduli dengan kapasitasnya. Akhirnya, Mei 1998, negeri ini meledak dalam rusuh sosial yang parah. Sebelumnya, krisis ekonomi melanda kawasan Asia Tenggara dan di Indonesia menjelam menjadi krisis multidimensi.

Suharto lengser disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh anak negeri. Namun kita lupa bahwa sistem yang diciptakan Suharto tidaklah ikutan lengser, malahan memperkuat diri sehingga kian solid. Sebab itu, naiknya Habibie, kemudian diganti dengan Abdurahman Wahid, Megawati, dan kini SBY, tidaklah mengubah wajah negeri ini menjadi semakin baik dan cantik, bahkan sebaliknya menjadikan wajah negeri ini kian bopeng dan rusak.

Konspirasi Zionis Internasional yang dikomandoi Amerika sebagai panglima imperialis dunia mengobok-obok konstitusi negara ini. Mereka menggelontorkan uang dalam jumlah banyak, menyuap para wakil rakyat di lembaga legislatif agar bersedia menyulap UUD 1945 menjadi UUD yang pro imperialisme asing dan tidak pro rakyat. Akibatnya sekarang ini, seluruh sendi-sendi ekonomi Indonesia berada dalam cengkeraman tangan kekuatan imperialis dunia. Kita menjadi babu di negeri kita sendiri.

Agar rakyat sibuk dengan hal-hal yang tidak penting, maka dibuatlah suatu sistem dengan mengeksploitasi demokrasi yang mampu meninggikan syahwat kekuasaan seluruh anak negeri. Semua pelayan rakyat dari tingkat presiden hingga walikota dan bupati dipilih lewat penyelenggaraan proses pemilihan umum yang melibatkan rakyat banyak. Jadilah negeri ini terlalu sibuk dengan pemilu legislatif, pemilu presiden, dan berjuta pilkadal yang menguras pikiran, uang, waktu, dan sumber daya anak negeri ini.

Menjadi pejabat sekarang ini menjadi lahan profesi baru, di mana partai politik menjadi kendaraan yang efektif untuk itu. Banyak pengangguran intelektual—orang-orang lulusan perguruan tinggi namun miskin kreativitas—yang melirik lahan profesi baru ini. Untuk bisa tampil menjadi caleg misalnya, diperlukan uang mahar dalam jumlah yang banyak sebagai modal yang harus disetor kepada partai politik sebagai kendaraannya. Jika dirinya berhasil menjadi pejabat, aleg atau walikota dan sejenisnya, maka hal yang pertama-tama dipikirkan adalah mengumpulkan uang agar modalnya bisa balik dalam waktu yang tidak terlalu lama (Break Event Point).

Setelah modal bisa balik, maka prioritas kerja selanjutnya adalah lagi-lagi mengumpulkan uang agar lima tahun ke depan bisa dijadikan modal untuk mempertahankan jabatannya, lewat pilkadal dan sebagainya. Partai politik tempatnya bernaung juga dengan ganas selalu meminta bagian atau prosentasi uang yang berhasil dikumpulkannya. Terciptalah simbiosis-mutualisme antara pejabat dengan partai politiknya dalam merampok uang rakyat, karena sumber-sumber keuangan negara memang berasal dari rakyat, apakah itu dari pemasukan pajak, atau dari pemangkasan subsidi bagi rakyat kecil seperti yang terjadi dalam kasus pemangkasan subsidi BBM.

Negeri ini sungguh gila. Subsidi untuk rakyat kecil dalam banyak bidang dipangkas, namun subsidi bagi para pejabat negara dilestarikan. Sebab itulah terjadi hal-hal yang sungguh tidak masuk akal, bagaimana di negeri yang miskin dan hampir hancur ini, banyak rakyatnya yang bunuh diri gara-gara frustasi dengan kehidupannya yang kian lama kian dirasa menindas, banyak anak-anak kecil turun ke jalan mencari uang untuk sekadar bisa makan, para pejabatnya bisa mendapat fasilitas mobil mewah, rumah dinas yang luks, gaji yang kian hari kian meninggi, bisa jalan-jalan keliling dunia dengan fasilitas nomor wahid dengan alasan studi banding, dan sebagainya.

Korupsi berjamaah menjadi trend. Merampok uang rakyat lewat pos-pos anggaran dijadikan seni kreativitas tersendiri bagi banyak pejabat kita. Sistem yang sungguh gila dan memuakkan ini terus berjalan dengan berbagai dalih dan pembenaran yang konyol. Sebab itu, partai-partai politik berlomba-lomba untuk bisa merampok uang rakyat sebanyak-banyaknya. Kekuasaan menjadi “gadis remaja nan cantik dan molek” yang diperebutkan semua parpol. Hanya inilah yang bisa menerangkan kepada nurani kita mengapa parpol-parpol yang dikenal agamis bisa-bisanya bersekutu dengan parpol-parpol yang sekularis. Tahta, harta, dan wanita, merupakan fitnah abadi dalam pergumulan ini.

Apa kabar nasib rakyat banyak? Bagaimana dengan kondisi umat? Jujurlah, anak negeri ini sekarang hanya dijadikan kuda tunggangan bagi partai-partai politik. Didekati dan diberi janji manis tatkala mendekati pemilu atau pilkadal, dan secepatnya dilupakan begitu pesta demokrasi usai. Inilah kenyataan yang terjadi kemarin, hari ini–dan jika kita terus saja mau dijadikan kuda tunggangan–akan tetap terjadi esok hari.

Bagi Muslim, taat tanpa syarat, loyalitas mutlak, hanyalah diberikan kepada Allah SWT dan Rasululah SAW. Inilah ketauhidan sejati. Selain daripada itu, tidak ada ketaatan mutlak, apalagi tanpa didahului oleh pemahaman yang benar dan menyeluruh.

Hari-hari ini jutaan bendera parpol secara serampangan dan jauh dari etika berdiri atau diikat di mana saja. Di tiang listrik, pagar jalan raya, pohon-pohon, gedung, dan sebagainya. Dari kesemrawutan pemasangan saja sudah memperlihatkan kepada kita jika mereka memang tidak pernah memperhatikan etika dalam berpolitik. Yang ada cuma nafsu berkuasa, agar bisa merampok uang rakyat besar-besaran untuk mengembalikan modal (mahar politik) yang sudah disetor ke parpol masing-masing dalam jumlah miliaran rupiah agar bisa menjadi caleg nomor jadi.

Adalah fakta, untuk menjadi caleg nomor jadi di parpol, maka Anda harus menyetor uang dalam jumlah miliaran kepada pemilik parpol tersebut. Sebab itu, ketika terpilih sebagai aleg, maka prioritas kerjanya adalah berusaha keras mencari uang agar bisa balik modal. Setelah itu mencari modal lagi agar bisa terus jadi aleg lima tahun ke depan. Inilah lingkaran setan yang ada dalam sistem politik kita sehingga bohong besar jika mereka mengaku bekerja untuk kemashlahatan rakyat banyak. Hal ini berjalan sejak masa rezim Orde Baru hingga detik ini.

Dari tahun ke tahun, dari pemilu ke pemilu lainnya, rakyat banyak terus-terusan dibohongi oleh parpol dengan jargon-jargon yang indah-indah namun tidak pernah terlaksana. Sejak awal Suharto selalu menyatakan anti korupsi, tapi korupsi di masa kekuasaannya terjadi dengan sangat dahsyat, hingga mengkorup seluruh kekayaan alam negeri ini kepada pemodal Yahudi Internasional. Di era reformasi banyak pihak mengklaim sebagai parpol yang menjunjung tinggi asas kebersihan berpolitik, anti kezaliman, pro rakyat, perduli dengan umat, dan sebagainya dan sebagainya. Namun yang terjadi ternyata sebaliknya.

Kehidupan umat atau rakyat banyak tidak pernah berubah, selalu saja berada dalam kubangan kemiskinan dan kemelaratan, sedangkan orang-orang parpol yang tadinya pengangguran, cuma seorang karyawan biasa, pengamat kelas kacangan, guru yang hanya mampu kredit motor bekas, dan sejenisnya, setelah menjadi pejabat tiba-tiba kehidupannya berubah menjadi makmur dan sangat sejahtera dengan segala fasilitas yang mewah.

Di tingkat elit, para tokoh parpol menjadikan parpol sebagai kendaraan politik bernilai ekonomis yang sangat tinggi dan strategis yang sangat menguntungkan dirinya. Perolehan suara dalam pemilu atau jumlah anggota suatu parpol dijadikan modal utama untuk melakukan negosiasi dengan pengusaha-pengusaha atau tokoh-tokoh nasional yang kaya yang mau dikarbit atau dicalonkan sebagai anggota legislatif atau bahkan presiden.

Tokoh yang tidak punya prestasi apa-apa yang patut dibanggakan dibikinkan iklan di media massa dengan menunggangi anak-anak bangsa yang berprestasi. Iklannya berkali-kali ditayangkan di teve dan tentu saja menghabiskan dana dalam jumlah yang amat besar. Tokoh yang berasal dari institusi kotor dan korup, yang tidak akan mungkin bisa naik jadi pejabat puncak institusi tersebut tanpa ikut-ikutan korupsi berjamaah, agar laku dijual ke rakyat, dicuci-bersih imejnya sehingga seolah-olah jadi malaikat penuh kemanusiaan. Tokoh yang fasis disulap dengan iklan menjadi tokoh yang welas-asih. Dalam hal memoles jagonya, parpol memang sangat kreatif sehingga ada saja rakyat yang tertipu mentah-mentah. Bahkan tokoh yang sholatnya jarang atau dikenal sebagai koruptor, bisa dijadikan pemimpin umat asal menyetor mahar politik puluhan bahkan ratusan miliar ke kantong elit parpol.

Politik di negeri ini memang telah menjadi arena politik dagang sapi yang sungguh-sungguh dahsyat daya rusaknya. Pemainnya telah menjadi manusia-manusia yang “Raja Tega” dan membolak-balik pasal-pasal, bahkan ayat-ayat kitab suci, demi keuntungan mereka sendiri. Rakyat hanya dijadikan kuda tunggangan, tidak lebih.

Lantas, jika demikian, bagaimana kita sebagai bagian dari rakyat banyak, bersikap dalam Pemilu 2009 yang tinggal dalam hitungan bulan lagi? Satu hal yang harus dicatat, bahwa keikutsertaan kita dalam pemilu BUKANLAH KEWAJIBAN melainkan HAK. Tidak ada satu pun pihak di negeri ini yang bisa memaksakan kehendaknya kepada kita. Jadi, ikut tidaknya kita dalam “pesta demokrasi” tersebut berpulang kepada keputusan masing-masing, yang tentunya setelah menimbang-nimbang manfaat mudharatnya. Terlebih bagi seorang Muslim, setiap keputusan kita nantinya akan dipertanggungjawabkan di akherat kelak, jadi wajib berhati-hari dalam hal ini dan jangan salah mengambil keputusan, apalagi mengambil keputusan berdasarkan ketaatan yang salah kepada sesama mahluk.

Bagi Muslim, taat tanpa syarat, loyalitas mutlak, hanyalah diberikan kepada Allah SWT dan Rasululah SAW. Inilah ketauhidan sejati. Selain itu, tidak ada ketaatan mutlak, apalagi tanpa didahului oleh pemahaman yang benar dan menyeluruh. Dalam Islam berlaku “Fahmu qabla Thoat” atau Memahami suatu masalah terlebih dahulu sebelum menyerahkan ketaatan. Jadi, bukan “Thoat qabla Fahmu” alias taklid buta. Islam mengharamkan taklid buta kepada sesama manusia.

Agar kita semua bisa memutuskan sikap menjelang Pemilu 2009, maka di bagian kesepuluh tulisan ini akan dipaparkan agenda apa saja yang harus dipikul oleh calon pemimpin negeri ini. Hal ini sangatlah penting dan mendesak, karena bangsa ini sekarang tengah meluncur ke jurang kebinasaan yang dalam. Jika kita tidak cepat bertindak, maka negeri ini akan hancur dan tidak lagi bisa ditolong.

Momentum kebangkitan nasional—suatu istilah politik yang sarat kepentingan—sesungguhnya suatu eufimisme dan pembohongan publik yang keterlaluan dan tidak tahu malu. Bagi kita yang setiap hari pergi ke kantor bergelantungan di atas kereta api ekonomi atau di bus kota, maka akan jelas jika kian hari kian banyak anak-anak bangsa yang berkeliaran dan terlantar di jalan-jalan untuk mengemis atau mengamen. Ini potret sederhana betapa bangsa ini kian hari kian hancur, bukan bangkit!

Rasul SAW dan sahabat mendermakan banyak hartanya untuk dakwah Islam dan menyisakan sedikit sekali untuk keluarganya. Sekarang kebalikannya. Harta yang banyak untuk keluarganya dan mendermakan sangat sedikit untuk dakwah Islam.

Hari-hari ini kita semua tengah menyaksikan satu episode ambruknya sistem kapitalisme yang dipromosikan AS dan dianut oleh banyak negara di dunia ini, termasuk Indonesia. Dan satu hal yang patut dicatat: Tidak ada satu partai politik pun yang berani angkat bicara menyodorkan solusi jitu agar Indonesia tidak ikut-ikutan terseret dalam pusaran krisis yang bermula dari AS ini.

Semua tokoh parpol diam, tutup mulut. Bisa jadi karena mereka memang tidak pernah berpikir akan hal demikian, bisa jadi mereka memang tidak tahu apa solusinya, dan bisa jadi mereka memang terlalu khusyuk memikirkan cara memperoleh sebanyak-banyaknya suara rakyat sehingga lupa apa agendanya sendiri jika sudah berkuasa.

Rakyat banyak perlu memiliki panduan dalam memilih sikap menghadapi Pemilu 2009, termasuk Pemilu memilih capres dan wakilnya. Adakah mereka memenuhi kriteria di bawah ini atau tidak. Jika ada silakan tentukan pilihan, dan jika semua parpol atau semua capres tidak memenuhi kriteria di bawah ini, silakan juga untuk memikirkan apakah akan tetap ikut memilih atau bahkan memilih untuk tidak memilih. Ini semua berpulang pada masing-masing individu.

Islam telah menggariskan dengan catatan tebal-tebal bahwa seorang pemimpin atau pun sebuah lembaga yang akan memimpin (parpol, misalkan) wajib memiliki kriteria kenabian seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Ada empat persyaratan utama untuk calon pemimpin yakni: Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah.

Siddiq berarti jujur. Amanah berarti bisa dipercaya. Tabligh berarti memiliki transparansi atau berani menyerukan kebenaran tanpa takut resiko apa pun, karena kebenaran tetaplah suatu kebenaran walau terasa pahit. Dan Fathonah berarti profesional.

Kriteria Pemimpin

Seorang pemimpin wajib memenuhi empat kriteria di atas. Dia harus jujur, amanah, memiliki transparansi, dan berani memperjuangkan kebenaran tanpa takut sedikit pun akan resikonya.

Kejujuran seorang pemimpin merupakan modal utama. Jujur dalam bersikap, jujur dalam berbicara, dan jujur dalam bekerja. Seorang pemimpin yang jujur tidak akan membohongi umatnya. Jika dia mengarahkan umatnya untuk memilih seorang calon pemimpin (qiyadah) untuk suatu daerah atau wilayah, misal dalam pilkada, maka pemimpin itu harus jujur apakah orang yang diusung itu memang bersih, bukan dipoles atau dibersihkan oleh iklan politik, apakah orang itu memang layak dijadikan imam, bukan koruptor atau penjudi yang dikesankan sudah tobat, dan sebagainya.

Kejujuran seorang pemimpin tidak akan menjadikannya tokoh elitis yang sulit digapai umatnya. Dia haruslah egaliter, dekat dengan tetangganya, dan tidak membangun istana bagi diri dan keluarganya, sehingga sulit atau membuat enggan orang banyak untuk mendatanginya. Rumah seorang pemimpin yang jujur dan egaliter haruslah senantiasa terbuka. Dia tidaklah membangun tembok pagar tinggi-tinggi yang akan memisahkan dirinya dengan para tetangganya.

Rasululah SAW dan para sahabat tidak pernah membangun rumahnya bagaikan istana atau memiliki pagar tinggi-tinggi. Orang-orang mulia ini bahkan kehidupan pribadi dan keluarganya amat sederhana. Bahkan banyak sirah menyebutkan jika Rasulullah seringkali kelaparan sehingga harus berpuasa atau menambal perutnya dengan batu untuk bisa menahan lapar. Padahal, jika Rasulullah mau, maka kehidupannya dan kehidupan keluarganya pasti bisa kaya raya seperti penguasa-penguasa Quraisy dan juga seperti Kaisar-Kaisar Imperium Roma dan juga Persia yang hidup dalam kelimpahan segala kelezatan duniawi. Namun Rasulullah dan para sahabatnya tidak mau tertipu dengan dunia.

Dengan kehidupannya sendiri mereka mencontohkan betapa dunia hanyalah sesaat dan negeri akheratlah yang kekal. Rasulullah SAW dan para sahabatnya tidak pernah menghimbau umatnya untuk berlomba-lomba menghimpun kekayaan duniawi, bahkan dengan alasan modal dakwah sekali pun. Rasulullah SAW dan para sahabatnya tidak pernah menyerukan umatnya untuk memiliki kecenderungan terhadap kehidupan dan kelezatan duniawi. Bahkan untuk masuk ke pasar, Rasulullah SAW memberikan nasihatnya pada kita semua untuk mengucap, “Naudzubillahiminasyaitonirajim.” Meminta perlindungan dan pertolongan Allah SWT dari segala godaan setan yang ada di pasar tersebut. Pasar memang tempat mangkalnya banyak setan yang kerjanya menggoda manusia untuk lalai mengingat Allah SWT. Adalah aneh jika ada pemimpin yang menyeru kepada umatnya agar banyak-banyak ke mall. Ini memperlihatkan kepada kita orientasi dan kualitas sesungguhnya dari sang pemimpin itu.

Dengan kejujurannya, seorang pemimpin bisa dipercaya. Jika dia jujur dalam bekerja, mengemban amanah umat, apalagi dalam keadaan sulit seperti Indonesia sekarang ini, maka mustahil kekayaan pribadi dan keluarganya akan bisa bertambah banyak setelah dia menjabat. Rasulullah dan para sahabatnya membuktikan jika menjadi pemimpin itu berarti berani hidup dalam keserba-terbatasan.

Abu Bakar adalah sosok yang paling dermawan dalam membelanjakan harta bendanya di jalan Allah SWT. Dalam satu riwayat, Umar bin Khathab pernah bercerita, ”Suatu saat kami pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk mendermakan harta kami. Kebetulan aku memiliki harta, dan aku bertekad untuk bisa melampaui kedermawanan Abu Bakar.”

Umar langsung membawa harta miliknya ke hadapan Rasulullah SAW. Melihat kedatangan Umar, beliau bertanya, ”Apakah engkau menyisakan hartamu untuk keluargamu, ya Umar?” Umar dengan cepat menjawab, ”Ya, wahai Nabi Allah.”

Tidak berselang lama, Abu Bakar datang juga dengan hartanya. Rasulullah SAW juga bertanya, ”Apakah engkau juga menyisakan harta untuk keluargamu, ya Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, ”Aku hanya sisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.” Mendengar hal itu, Umar berkata, ”Demi Allah, saya benar-benar tidak mampu menyaingi kedermawanan Abu Bakar seumur hidupku.” (HRTirmidzi dari Umar bin Khattab).

Bagaimana dengan para pemimpin sekarang? Bukankah faktanya, kebanyakan dari mereka sekarang malah mengambil banyak untuk keluarganya dan menyisakan sedikit untuk umatnya? Sebab itu, adalah kenyataan jika sekarang banyak tokoh umat yang kehidupannya kaya raya setelah menjadi pejabat, sedangkan umatnya tetap hidup miskin papa dan kian hari kian melarat.

“Masalah pokok bangsa kita adalah bahwa semangat kemerdekaan, kedaulatan, dan kemandirian kita sudah hilang untuk kurun waktu yang cukup lama, terlebih-lebih pada era sekarang ini, ” demikian Amien Rais.

Pemilu 2009 tinggal menghitung hari. Bendera partai politik sudah berkibar di mana-mana mengotori pemandangan kota. Iklan-iklan parpol dan capres sudah jor-joran tampil di berbagai media. Sekarang, adakah agenda paling mendesak bangsa ini yang mereka usung? Lantas, apa agenda paling mendesak yang harus dilakukan calon pemimpin negeri ini agar bangsa besar bernama Indonesia bisa diselamatkan dari kehancuran?

Dalam bukunya “Agenda Mendesak Bangsa: Menyelamatkan Indonesia ! (2008), Amien Rais menulis: “Masalah pokok bangsa kita adalah bahwa semangat kemerdekaan, kedaulatan, dan kemandirian kita sudah hilang untuk kurun waktu yang cukup lama, terlebih-lebih pada era sekarang ini.”

John Pilger, kolumnis sekaligus pembuat film independen Australia, di dalam kilpnya berjudul “The New Ruler of the World” menyatakan, “Indonesia merupakan negeri besar yang jatuh menjadi bangsa pengemis…” Hal ini disebabkan, sepeninggal Soekarno, para Indonesia tidak memiliki karakter yang kuat untuk membangun bangsanya. Yang ada adalah karakter penipu, pencuri, perampok, dan mental korup.

Di zaman Soekarno, dengan konsep kemandirian dalam pembangunan ekonominya, walau menerima juga sejumlah bantuan dan juga utang dari negara lain, namun itu semua tidak menjadikan arah pembangunan dan kedaulatan negeri ini hancur. Sebab itu Amerika sangat bernafsu menumbangkan Soekarno dan baru berhasil di tahun 1965 lewat tangan Jenderal Suharto dengan local army friend-nya. Jatuhnya Soekarno oleh Washington dirayakan besar-besaran. Indonesia dikatakan sebagai “Upeti paling besar dari Asia”.

Sepeninggal Soekarno, oleh Suharto dan komplotannya, kekayaan negeri ini digadaikan dengan harga yang sangat murah. Sejak itu Indonesia berubah bentuk menjadi sekuntum bunga yang ranum dan mekar-mewangi yang disodorkan cuma-cuma bagi sekawanan lebah rakus yang kelaparan bernama Imperialis Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Gunung emas di Papua disedot habis oleh Freeport McMoran hingga kini menjelma menjadi lembah yang amat dalam.

Asas legal-formal bagi penanaman modal asing di negeri ini (UU PMA 1967) dibuat di Swiss (November 1967) dan disusun oleh para pengusaha Yahudi Internasional bernama Rockefeller dan sebagainya. Ketika Suharto jatuh, para kroninya naik menjadi penguasa dan meneruskan kerusakan yang sudah dimulai sejak tahun 1965 hingga hari ini.

Habibie yang menggantikan Suharto yang dipandang sebagai pemimpin yang lebih baik ketimbang pendahulunya, ternyata juga melakukan kerusakan yang cukup besar. Selama masa kekuasaan yang sempit, Habibie sempat menerbitkan UU No.10/1998 tentang Perbankan (nama resminya UU No.7/1992 tentang Perbankan, namun diubah di zaman Habibie). UU ini jauh lebih eksplisit di dalam mendorong salah satu agenda Konsensus Washington, yaitu liberalisasi sektor keuangan dan perdagangan. Lebih parah lagi, semangat liberalisasi ini dilakukan dengan kebablasan, tanpa peyiapan jaring-jaring pengaman dari liberalisasi, terutama manajemen resiko (Amien Rais; Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!; ppsk press, 2008; h. 185).

UU ini sangat liberal, bahkan melebihi IMF sekali pun. Dengan UU ini, asing bisa menguasai 99% saham bank di Indonesia. Padahal komitmen Indonesia di WTO hanya 49-51%. Dengan UU ini Indonesia jauh lebih liberal ketimbang negara-negara AS, Australia, Kanada, Singapura, dan sebagainya. Indonesia juga lebih ngawur di banding negara Asia lainnya.

“…dampaknya, saat ini 6 dari 10 bank terbesar di Indonesia sudah dimiliki pihak asing dengan kepemilikan mayoritas. Hebatnya lagi, pihak asing bisa membeli bank-bank tersebut dengan harga hanya 8-12% dari total biaya rekaitulasi dan restrukturisasi perbankan yang dikeluarkan oleh negara. Negara pun masih harus membayar bunga obligasi sekitar Rp.50-60 triliun tiap tahun hingga tahun 2030.(Amien Rais; ibid. h. 186)

Ketika Habibie digantikan Abdurrahman Wahid, sahabat karib kubu Zionis ini terang-terangan membuka hubungan dagang resmi dengan Zionis-Israel, yang sesungguhnya mengkhianati UUD 1945. Lalu naik Megawati yang banyak melakukan penjualan badan-badan usaha milik negara kepada pihak asing. Kasus listing Telkom di NYSE, Semen Gresik, dan Indosat adalah contohnya.

SBY-JK pun sami mawon. Selama pemerintahannya, harga migas sudah mengalami berkali-kali kenaikan, rakyat tetap antre mengular untuk mendapatkan lima liter minyak tanah, kekayaan alam kita tetap dijarah pihak asing, korupsi kian meraja-lela, kian banyak rakyat kecil bunuh diri gara-gara putus asa dengan kehidupannya yang kian sulit, dan satu hal lagi: Pejabat negara ini kian jauh dari rakyat dan kian ganas memeras keringat dan darah rakyat, memperkosa negeri ini, demi keuntungan material kelompoknya sendiri. Tim ekonomi pemerintahan SBY-JK juga masih saja dipenuhi kacung-kacung IMF dan World Bank yang menuhankan Konsensus Washington. Seolah-olah negeri ini merupakan negara bagian Amerika Serikat yang ke-51.

Sejarah dunia sudah berkali-kali mencatat, pemimpin-pemimpin besar hanya bisa lahir dari kerasnya perjuangan. Ada istilah yang berlaku sejak lama bahwa seseorang itu belum bisa dikatakan pemimpin jika belum merasakan dinginnya lantai penjara.

Sebuah ikhtisar akan memudahkan kita untuk mengambil intisari dari sebuah rangkaian tulisan yang panjang. Dalam tulisan terakhir tentang Agenda Selamatkan Indonesia, kami akan menuliskan beberapa pokok pikiran yang insya Allah bisa kita jadikan pegangan bersama di dalam upaya kita menyelamatkan bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai. Inilah iktisarnya:

Korupsi dalam segala sisi dan variannya (mark-up anggaran, seenaknya memakai uang rakyat untuk pelesiran ke luar negeri, menyunat dana proyek, membeli fasilitas pejabat memakai uang rakyat, suap, dan sebagainya) merupakan penyakit utama yang harus diberantas negeri ini.

Ironsinya, walau sekarang dikatakan era reformasi, namun di lapangan penyakit korupsi ini malah kian menggila. Sehingga ada istilah Korupsi Berjamaah. Sistem perekrutan kepala daerah, caleg, hingga presiden, di mana calon harus memiliki modal dana yang sangat besar, sangat membuka peluang terhadap praktik korupsi ini. Sebab itu, sistem setor dulu modal sebelum menjabat harus diakhiri. Pilkada-pilkada yang memilih pemimpin dari tingkat Bupati hingga Presiden harus disederhanakan karena sangat menguras energi, waktu, dan biaya bangsa ini. Pemilihan langsung hendaknya dilakukan untuk tingkat pemilihan gubernur hingga presiden. Itu pun sebenarnya sudah cukup menyita energi.

Masalah lain adalah kosongnya pemimpin atau calon pemimpin yang memiliki karakter kuat. Sekarang ini calon pemimpin dikarbit melalui iklan di media massa. Orang yang tidak punya prestasi apa-apa dipromosikan sebagai calon pemimpin. Orang yang tidak pernah berkorban dan berjuang untuk bangsanya, dijagokan sebagai pemimpin. Dan yang konyol, ada segolongan orang yang meminta agar dirinya diberi kesempatan untuk memimpin dengan dalih regenerasi kepemimpinan, tanpa bisa menyodorkan prestasi apa yang pernah dilakukannya. Hasilnya ya seperti sekarang ini: menyedihkan.

Padahal sejarah dunia sudah berkali-kali mencatat, pemimpin-pemimpin besar hanya bisa lahir dari kerasnya perjuangan. Ada istilah yang berlaku sejak lama bahwa seseorang itu belum bisa dikatakan pemimpin jika belum merasakan dinginnya lantai penjara. Tentu bukan karena tertangkap oleh KPK. Melainkan karena perjuangannya melawan ketidak-adilan yang ada di sekitarnya. Soekarno saja sebelum menjadi presiden telah merasakan kehidupan penjara selama 25 tahun!

Korupsi dan tiadanya karakter pada pemimpin bangsa ini menyebabkan bangsa dan negara ini terus terpuruk. DI saat asing menguasai nyaris seluruh sumber daya alam dan energi bangsa ini, kita masih saja bersuka-cita dan mengangap negara ini masih merdeka. Padahal kenyataannya tidak. Lantas apa yang harus menjadi agenda para calon pemimpin bangsa ini?

Pertama, harus berani memerangi korupsi dan memenjarakan koruptor. Dia harus berani membuka dan menuntaskan kasus korupsi berjamaah seperti halnya kasus BLBI. Para konglomerat yang selama ini asyik menikmati uang jarahannya harus diseret dijatuhi hukuman yang setimpal. Jika perlu hukum tembak mati agar bisa membuat jera. Cina saja yang bukan negara Pancasila bisa melakukan itu, mengapa Indonesia tidak?

Perang terhadap koruptor dan segala variannya ini harus diawali dari tingkat atas. Dari tingkat para menteri, sekjen, termasuk lembaga legislatif dari tingkat pusat hingga daerah. Bukan rahasia umum lagi jika lembaga legislatif selama ini merupakan sarang penyamun dan bandit berdasi, walau tidak semua.

Kedua, pemimpin bangsa ini harus bisa mengembalikan kedaulatan bangsa dan negara ini ke tangan rakyat seperti yang diamanahkan UUD 1945. Selama ini, tanpa diketahui rakyat banyak, UUD 1945 telah dikebiri dengan berbagai amandemen yang sesungguhnya merupakan pesanan AS. Kembalikan UUD 1945 dan batalkan UUD hasil amandemen demi hukum. Buat kontrak-kontrak karya baru yang berkeadilan bagi perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di negeri ini. Jika mereka menolak, usir saja. Venezuela dan Bolivia merupakan contoh yang bagus untuk ini.

Dua kriteria di atas sudah sangat cukup untuk menyelamatkan bangsa ini dari jurang kehancuran. Hanya saja, apakah sekarang ada calon pemimpin yang berani melakukan itu? Jika tidak, lantas apa manfaatnya pemilihan umum jika “pesta demokrasi” yang menghambur-hamburkan banyak uang rakyat itu hanya bisa menghasilkan para koruptor dan penyamun berdasi?

BOCAH MISTERIUS September 18, 2008

Posted by ejemy in Wonderfull Story.
Tags:
4 comments

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang…

Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.

Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak
remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini
bagi orang kampung sungguh menyebalkan.
Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda
dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya
memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.
Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap
dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat
diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila
orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa!
Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan
puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar
dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja
menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa,
karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu
ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung
mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah
kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan
bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan
roti isi daging tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian
dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan.
Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya
akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat
mundur semua orang yang akan melarangnya.

************ ********* **

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah
itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda
zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.
Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama
dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan
es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang
lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es
kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain
menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.
Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu tadi,bukannya
takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot,
seakan-akan matanya akan keluar Luqman.

“Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali
mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya.
Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian,
ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.
Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga
akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya
bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi
mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun
menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu,
dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan
tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang
melihatnya.

“Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan
menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan
saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman,
seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang
kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada
Luqman.
“Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan
puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu,
bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya
ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang
dengan tingkahmu itu..”

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan
uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah
itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman
lebih tajam lagi.
“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami
semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal
ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan
kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan
pada sebelas bulan diluar bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami
yang kelaparan, dengan menimbun harta
sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?

Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan
melupakan kami yang sedang menangis?

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila
sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian
mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga
kematian menjemput ajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran
waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus?
Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib
terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?”

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi
kesempatan pada Luqman untuk menyela.
Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia
berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk,
kini ia bersuara lirih, mengiba.
“Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa
ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya
bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa
kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang
siang saja.

Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang
di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami
dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu
kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam
mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi
banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya
denga istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di
saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun
hanya ada kepedulian yang seadanya pula.

Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah
yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali
termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya
lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap
orang-orang kecil seperti kami…!

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?
Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara
berlebih?

Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan
orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan
melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di
sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta,
tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan
adanya azab Tuhan yang akan menimpa?

Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih
menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap
kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun,
jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah
menyatu dengan bumi kelak…”

************ ********* *

Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan
hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari
mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.
Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut
adalah benar adanya!
Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini
bukanlah bocah sembarangan.

Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu,
bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang
dibuatnya terbengong-bengong.
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak
ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah
hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia
edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa
dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.
Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua
orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng
bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran
didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu
keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah
menghilang!

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar
langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan
bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak
masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk
akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang
dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan
pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan
orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang
tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka
yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa
seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang
sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali
menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan
membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang
berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan
terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan,
sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan
lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah
memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau
menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau
dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan
kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus
menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua
orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya
orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa
saja yang menghendaki bercahayanya hati.

Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir.
Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya,
selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan
tudingan-tudingan yang memang betul adanya.
Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada
seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia
salah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.